Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri.
SURABAYA, JATIM – Menjawab tantangan revolusi digital di sektor pendidikan, Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur resmi menunjuk 13 SMA Negeri sebagai pilot project Sekolah Digital. Langkah ini menjadi upaya konkret dalam mengintegrasikan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), ke dalam sistem pembelajaran dan manajemen sekolah secara menyeluruh.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menjelaskan bahwa penerapan sekolah digital bukan sekadar beralih ke sistem daring, tetapi merupakan transformasi menyeluruh untuk meningkatkan efisiensi kerja tenaga pendidik sekaligus mengembangkan potensi siswa dan lingkungan sekolah.
“Konsep sekolah digital bukan berarti seluruh aktivitas serba digital. Tapi bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi dan efektivitas. Contohnya, absensi siswa bisa direkap otomatis melalui kamera digital. Bahkan guru bisa dimonitor, apakah benar-benar mengajar atau hanya memberi tugas,” ungkap Aries, Senin (8/9/2025).
Lebih lanjut, Aries menyebut bahwa implementasi teknologi juga akan tetap mengedepankan aktivitas dasar seperti menulis tangan, sejalan dengan imbauan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menekankan pentingnya peningkatan literasi siswa.
“Siswa tetap akan menulis tangan, lalu hasilnya di-scan dan diunggah ke platform digital untuk bahan diskusi. Ini bentuk sinergi antara pendekatan konvensional dengan transformasi digital,” jelasnya.
Untuk mendukung keberhasilan program ini, Dindik Jatim juga menyiapkan Learning Management System (LMS) berbasis Moodle, yang akan digunakan sebagai pusat pengelolaan materi ajar, penilaian, hingga manajemen sekolah.
“Para guru di sekolah percontohan telah kami latih untuk mengisi konten LMS. Mereka diajarkan membuat materi, soal, dan juga cara memanfaatkan sistem penilaian berbasis digital,” imbuhnya.
Kepala Bidang SMA Dindik Jatim, Suhartatik, menambahkan bahwa transformasi ke sekolah digital dilakukan secara bertahap dalam empat fase implementasi :
1. Digitalisasi proses pembelajaran, dengan memanfaatkan platform e-learning.
2. Digitalisasi sistem penilaian, baik formatif maupun sumatif.
3. Pelayanan berbasis digital, untuk mendukung manajemen sekolah yang efisien.
4. Kolaborasi dan komunikasi digital, antar guru, siswa, orang tua, dan tenaga kependidikan.
“Komunikasi antara semua elemen di sekolah akan difasilitasi melalui platform digital untuk memastikan keterhubungan yang efektif dan efisien,” jelas Suhartatik.
Berikut daftar 13 SMA Negeri yang ditunjuk sebagai percontohan Sekolah Digital oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur : 1. SMAN 2 Surabaya, 2. SMAN 10 Malang, 3. SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun, 4. SMAN 1 Geger, Kabupaten Madiun, 5. SMAN 1 Glagah, Banyuwangi, 6. SMAN 5 Taruna Brawijaya, Kediri, 7. SMAN 2 Taruna Bhayangkara, Banyuwangi, 8. SMAN Taruna Nala, Malang, 9. SMAN 2 Taruna Pamong Praja, Bojonegoro, 10. SMAN 2 Madiun, 11. SMAN 1 Tanggul, Jember, 12. SMAN 2 Mojokerto, dan 13. SMAN Taruna Madani, Pasuruan.
Program ini diharapkan menjadi benchmark bagi sekolah-sekolah lain dalam mengadopsi digitalisasi pendidikan yang terintegrasi dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.**








