Laporan wartawan sorotnews.co.id : Tim.
PEKALONGAN, JATENG – Misteri pengadaan kontainer sampah terbuka dan tertutup senilai Rp700 juta di Kabupaten Pekalongan kian dalam. Alih-alih menerima barang jadi sebagaimana prosedur e-purchasing e-katalog, kontainer justru dirakit manual di bengkel las lokal. Proyek yang semestinya transparan ini pun memantik tanda tanya besar: siapa sebenarnya pemenang kontrak dan mengapa mekanisme pengadaan tak seperti semestinya?
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Dinas Perkim dan LH) Kabupaten Pekalongan, Muhammad Abduh Gazali, mengaku tak hafal detail penyedia, namun berjanji membatalkan proyek bila terbukti melanggar aturan. Ia juga menegaskan bahwa sebagian besar anggaran, terutama untuk kontainer bak terbuka, belum dibayarkan.
“Kalau memang salah, tidak sesuai prosedur, ya sudah dibatalkan saja. Kita mulai dari awal dengan yang sesuai aturan. Toh, untuk kontainer bak terbuka senilai Rp600 juta belum dibayar sama sekali. Yang sudah dibayar hanya untuk bak kontainer tertutup karena memang sudah paket mulai lebih awal,” tegasnya, Jum’at (15/8/25).
Gazali mengakui bahwa dirinya belum mengetahui detail nama penyedia atau CV pemenang kontrak, dan akan memastikannya terlebih dahulu. Ia menyebut, sistem pengadaan melalui e-katalog sudah menjadi prosedur sejak awal perencanaan di Sistem Rencana Umum Pengadaan (SiRUP), namun dirinya tidak memantau semua secara rinci karena jumlah paket pekerjaan yang banyak.
Ia menjelaskan, pengadaan ini terdiri dari dua paket: pembangunan laboratorium dan pengadaan kontainer sampah. Untuk kontainer, pengerjaan dilakukan secara manual oleh bengkel las lokal dengan harga sekitar Rp40 jutaan per unit, lebih murah dibanding harga standar SKU yang berkisar Rp60–70 juta.
“Kalau yang SKU itu kita bisa dapat yang standar,Saya cek di Cirebon memang anggarannya segitu. Kami Coba perbaiki kontainer, satu yang besar itu. Setelah kita koordinasi dengan bengkel dikasih harganya sekian, ya Mending bikin baru, harganya tidak jauh.” ujarnya.
Menurut Gazali,pihaknya menekankan penguatan rangka kontainer agar tahan terhadap beban berat dan tidak cepat rusak, mengingat bagian bawah kontainer langsung bersentuhan dengan sistem pengangkut di truk.
“Kalau bodi saja kuat, tapi rangkanya lemah, bisa patah saat diangkat. Jadi saya minta ada penambahan pembesian di rangka bawah,” katanya.
Terkait kabar bahwa pengerjaan dilakukan di bengkel las yang terletak dekat rumah pejabat, Gazali menyebut hal itu berkaitan dengan kerja sama pemeliharaan kontainer yang sudah ada sebelumnya.
“Kami memang ada kegiatan perawatan di sana, khususnya untuk kerusakan rangka,” jelasnya.
Soal progres pekerjaan, Gazali belum mengetahui pasti jumlah unit yang sudah jadi. Namun, ia menegaskan kembali bahwa proyek ini masih dalam tenggat hingga Desember dan belum ada pembayaran untuk paket yang dimaksud.
“Kalau nanti dicek dan ternyata prosedur atau kualitasnya tidak sesuai, ya dikembalikan saja atau dibatalkan. Kita tidak ada yang disembunyikan,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, proyek pengadaan kontainer sampah di Pekalongan ini menjadi sorotan publik karena meskipun menggunakan sistem e-purchasing melalui e-katalog, barang yang dipesan ternyata masih dirakit secara manual di bengkel las, bukan barang jadi yang siap kirim seperti lazimnya dalam mekanisme tersebut.**








