Laporan wartawan sorotnews.co.id : Toni.
PEKALONGAN, JATENG – Suasana berbeda terasa di halaman Setda Kota Pekalongan, Senin (22/9/2025) malam. Tanpa panggung megah dan tanpa kursi untuk bersandar, puluhan pejabat baru resmi dilantik dalam upacara sederhana namun sarat makna. Lokasi yang sebulan lalu dilalap api kini justru menjadi saksi lahirnya semangat baru birokrasi di Kota Batik.
Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, menegaskan pelantikan tersebut bukan sekadar formalitas.
“Dulu kita bisa duduk sambil menikmati hidangan. Malam ini dari awal sampai akhir kita berdiri. Itu pesan simbolis: ke depan kerja keras harus lebih nyata,” ucapnya di hadapan pejabat yang dilantik.
Menurut Afzan, kekosongan sembilan kepala dinas dan sejumlah ASN yang memasuki pensiun justru membuka peluang regenerasi. Ia menekankan, penempatan jabatan tidak boleh hanya berdasar senioritas atau kedekatan personal, melainkan pada kinerja, rekam jejak, dan kemampuan membangun komunikasi lintas sektor.
Kepala BKPSDM Kota Pekalongan, Rusmani Budiharjo, menjelaskan, pelantikan malam itu mencakup 12 Jabatan Tinggi Pratama, 6 administrator, 13 pengawas, 1 kepala puskesmas, serta 21 jabatan fungsional.
“Semua melalui mekanisme ketat. Bahkan rotasi pejabat JPT pun tetap wajib uji kompetensi dan hasilnya dilaporkan ke Mendagri,” ungkapnya.
Rusmani juga menyinggung perubahan besar yang menanti pada 2026, ketika sistem manajemen talenta mulai diterapkan pemerintah pusat.
“Seleksi terbuka akan berakhir. Mekanisme baru menuntut kesiapan pejabat menghadapi standar yang lebih profesional,” jelasnya.
Salah satu jabatan strategis yang akhirnya terisi adalah Kepala Disdukcapil, setelah melalui asesmen berlapis hingga ke Dirjen Dukcapil. Sementara pengisian posisi Inspektorat masih menunggu proses tambahan dari kementerian terkait.
Afzan berpesan agar pejabat yang baru dilantik tidak hanya duduk di balik meja.
“Turunlah langsung ke lapangan. Jangan terlalu sering mewakilkan. Keputusan yang diambil langsung akan lebih cepat dan tepat,” tegasnya.
Pelantikan sederhana tersebut meninggalkan kesan mendalam: dari puing kebakaran dan keterbatasan, lahir tekad baru untuk memperkuat pelayanan publik. Pekalongan kini menapaki era birokrasi yang lebih tegap, dengan harapan generasi baru aparatur mampu menjawab tantangan zaman.**








