Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin.
BATANG, JATENG – Di sebuah rumah sederhana di Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Mistono (59) seorang petani sederhana mengaku delapan bulan menanggung derita kencing berdarah. Penyakit batu ginjalnya didiagnosa sebagai HIV, dunianya pun seakan runtuh akibat dugaan kelalaian medis tersebut. Belakangan diketahui setelah operasi ada selang tertinggal dalam perutnya.
Semua bermula ketika Mistono merasakan sakit luar biasa saat buang air kecil. Ia didiagnosis menderita kencing batu dan menjalani operasi di RSUD Kalisari Batang. Namun, bukannya lega, rasa sakit justru semakin menjadi-jadi.
“Setelah delapan hari dirawat, saya pulang. Tapi baru seminggu di rumah, sakit lagi sampai harus masuk rumah sakit. Lalu saat kontrol, perawat bilang saya kena HIV,” kenangnya dengan suara tercekat.
Bagi pria desa yang tak begitu paham medis, vonis itu terasa seperti hukuman mati. Mistono mencoba menerima, meski hatinya tak percaya sepenuhnya. Selama tujuh bulan, ia meminum obat HIV. Setiap hari tubuhnya semakin lemah, setiap malam pikirannya dihantui stigma dan rasa takut.
“Saya bingung, pusing, kencing darah terus. Saya sempat bertanya-tanya, apa benar HIV itu seperti ini?” ujarnya lirih.
Penderitaan Mistono tidak berhenti di situ. Kondisinya tak kunjung membaik hingga ia meminta rujukan ke RS Siti Khodijah, Kota Pekalongan. Di sana, setelah serangkaian pemeriksaan rontgen dan USG, dokter akhirnya menemukan penyebab yang sesungguhnya.
“Ada selang sepanjang 15 sentimeter masih tertinggal di dalam tubuh saya,” tutur Mistono, tak bisa menyembunyikan rasa getir.
Selang itu, diduga, tertinggal saat operasi batu ginjal di RSUD Kalisari. Setelah dilakukan operasi kedua untuk mengeluarkannya, kondisi Mistono berangsur pulih. Ia bisa kembali berjalan normal, makan dengan tenang, bahkan kembali ke sawah.
Yang lebih mengejutkan, hasil laboratorium terbaru justru menyatakan Mistono non reaktif HIV. Vonis HIV selama tujuh bulan terakhir ternyata salah.
Secara fisik, Mistono kini berangsur sehat. Namun luka batin dan trauma psikologisnya belum sepenuhnya pulih. Selama hampir sembilan bulan, ia bukan hanya menanggung sakit fisik, tapi juga beban stigma penyakit yang tak pernah ia derita.
Mistono kini menuntut kejelasan dan tanggung jawab dari pihak rumah sakit. Baginya, penderitaan panjang akibat salah diagnosis dan dugaan kelalaian medis bukan sekadar kesalahan kecil.
“Saya minta pertanggungjawaban. Hampir sembilan bulan saya sakit, bingung, keluarga ikut susah,” katanya tegas.
Saat dikonfirmasi, Direktur RSUD Kalisari Batang, Any Rusydiani, belum memberikan keterangan resmi terkait kasus ini. Yang bersangkutan belum merespon pesan yang dikirimkan.**








