Laporan wartawan sorotnews.co.id : Ateng.
SERANG, BANTEN — Wilayah Provinsi Banten dalam lebih dari sepekan terakhir terus dilanda berbagai bencana alam. Mulai dari tanah longsor hingga banjir bertubi-tubi terjadi di sejumlah daerah, di antaranya Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Serang, hingga wilayah Tangerang. Intensitas hujan yang tinggi menjadi pemicu utama terjadinya bencana di berbagai titik tersebut.
Salah satu wilayah yang kembali terdampak banjir adalah Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. Tepatnya di kawasan BCP 2, Desa Ranjeng, banjir menggenangi dua Rukun Warga (RW), yakni RW 05 dan RW 06, dengan total sekitar 15 Rukun Tetangga (RT) terdampak.
Berdasarkan pantauan langsung wartawan sorot news di lokasi pada Selasa (13/1), banjir terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang turun hampir selama satu pekan terakhir tanpa jeda signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan meluapnya sejumlah aliran air, di antaranya dari kawasan TCP, Kepuren Gabral, serta BCP 1, yang akhirnya mengalir dan merendam permukiman warga di BCP 2.
Ketua RW 06, Endang, saat ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa banjir di wilayah tersebut merupakan kejadian yang kerap berulang setiap musim penghujan.
“Setiap musim hujan, wilayah ini memang selalu terdampak banjir,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketinggian air di sejumlah titik mencapai lebih dari satu meter, sehingga air masuk ke rumah-rumah warga dan menghambat aktivitas masyarakat sehari-hari. Untuk mengurangi genangan, sebanyak lima unit pompa air telah disiagakan dan dioperasikan secara maksimal guna mempercepat proses penyurutan air.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, banjir dilaporkan masih belum surut. Air masih menggenangi permukiman warga dan memaksa sebagian masyarakat bertahan dengan kondisi terbatas.
Pihak RW juga menyampaikan bahwa saat pemantauan berlangsung, Camat dan Lurah setempat belum berada di lokasi sehingga belum dapat dimintai keterangan secara langsung.
Warga berharap adanya langkah penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan dari pihak terkait, khususnya melalui normalisasi saluran air serta pengendalian aliran dari wilayah hulu. Hal tersebut dinilai penting agar banjir tidak terus berulang dan menjadi ancaman rutin bagi masyarakat setiap musim hujan.**








