Bulog Mulai Serap Gabah Petani di Seram Utara Timur Kobi, Petani Lega

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Neles. 

MALUKU TENGAH, MALUKU – Petani padi di Kecamatan Seram Utara Timur Kobi Seti, Kabupaten Maluku Tengah, akhirnya dapat bernapas lega setelah Perum Bulog mulai menyerap hasil panen gabah mereka pada pertengahan Januari 2026. Penyerapan ini dilakukan setelah petani sempat menunggu kepastian sejak awal musim panen.

Perum Bulog melalui Kantor Wilayah Maluku–Maluku Utara telah melakukan pembelian gabah kering panen (GKP) di wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras di Maluku Tengah tersebut.

Manager Supply Chain & Public Services (SCPP) Perum Bulog Kanwil Maluku–Malut, Abdul Aziz, mengatakan bahwa proses penyerapan gabah telah dimulai sejak 14 Januari 2026.

“Kami sudah menyerap, Pak, dari tanggal 14 Januari,” ujar Abdul Aziz, yang dikutif di Liputan.co.id, Jumat (16/1/2026).

Menurutnya, hingga pertengahan Januari, Bulog melalui Gudang Bulog Kobi telah menyerap sebanyak 100.258 kilogram atau sekitar 100 ton gabah kering panen dari petani setempat. Penyerapan akan terus dilakukan secara bertahap sesuai kuota penugasan dari Badan Pangan Nasional (BAPANAS).

Abdul Aziz menegaskan bahwa Bulog berkomitmen mendukung petani dan menjaga stabilitas harga gabah di tingkat produsen. Harga pembelian gabah yang diterapkan sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Seram Utara Timur Kobi, Deni Akbar, mengungkapkan rasa syukurnya atas dimulainya proses penyerapan tersebut.

“Saat ini proses penyerapan hasil panen oleh pihak Bulog dengan standar harga pembelian pemerintah Rp6.500 per kilogram sudah dilakukan,” kata Deni.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu memperjuangkan agar gabah petani dapat segera diserap.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu proses ini sehingga Bulog hari ini sudah bisa menyerap hasil gabah petani,” ujarnya.

Deni turut mengajak seluruh petani di Seram Utara Timur Kobi untuk terus mendukung program swasembada pangan nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.

“Dengan segala hormat, kami mengajak seluruh petani untuk mendukung swasembada pangan oleh pemerintah pusat,” tambahnya.

Sebelumnya, Perum Bulog Kanwil Maluku–Malut mengakui belum dapat menyerap gabah petani pada awal Januari 2026 karena masih menunggu terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) serta penugasan resmi dari BAPANAS.

Abdul Aziz menjelaskan bahwa Bulog telah melakukan sejumlah rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku, dinas pertanian di beberapa kabupaten, serta Gapoktan untuk membahas rencana penyerapan gabah.

“Kami sudah siap menyerap gabah, tapi belum menerima secara resmi Inpres tentang penyerapan gabah beras dari petani dan penugasan dari BAPANAS,” ujar Abdul Aziz melalui sambungan telepon, Senin (12/1/2026).

Ia menyebutkan bahwa Bulog juga telah mengajukan anggaran penyerapan gabah untuk wilayah Maluku. Beberapa daerah, seperti Maluku Tengah, Buru, Seram Bagian Barat (SBB), dan Seram Bagian Timur (SBT), telah memasuki masa panen.

“Secara infrastruktur kami sudah siap, namun kami belum memiliki dasar penyerapan termasuk soal anggaran,” jelasnya.

Desakan agar Bulog segera menyerap gabah petani juga datang dari Anggota DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo. Ia mengaku menerima banyak keluhan dari petani di Maluku Tengah yang kesulitan menjual hasil panen mereka.

“Kami minta ada respons cepat dari pemerintah maupun Bulog. Jika gabah tidak segera diserap, petani bisa mengalami kerugian karena kualitas gabah menurun,” kata Wajo kepada Liputan.co.id.

Wajo menambahkan bahwa peningkatan produksi padi di Seram Utara tidak diimbangi dengan sistem penyerapan yang cepat dan memadai.

“Gabah yang tidak segera ditangani setelah panen sangat rentan mengalami penurunan kualitas akibat kadar air tinggi, serangan hama, atau tumbuhnya jamur,” ujarnya.

Kondisi tersebut sebelumnya juga dirasakan langsung oleh para petani, salah satunya Ali Mustopa, petani di Negeri Administratif Waimussi, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi. Ia mengeluhkan hasil panen mencapai 8 ton per hektare yang belum terserap dan masih tersimpan di rumah.

“Kita mau mengeluh ke siapa, hasil panen kita belum ada yang mau serap,” ujarnya, Ahad (11/1/2026).

Para petani berharap penyerapan gabah oleh Bulog dapat terus berlanjut dan dilakukan tepat waktu dengan harga yang layak, mengingat sebelumnya harga yang ditawarkan tengkulak hanya berkisar Rp4.500 hingga Rp4.800 per kilogram, jauh di bawah HPP.

Dengan dimulainya penyerapan oleh Bulog, petani berharap stabilitas harga dan semangat produksi padi di Seram Utara Timur Kobi dapat terus terjaga demi mendukung ketahanan dan swasembada pangan nasional.**

Pos terkait