Cegah Penularan Virus Nipah, Polda Papua Barat Daya Tekankan Pola Hidup Bersih dan Sehat

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Asep Suebu. 

SORONG, PBD – Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat Daya melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) menekankan pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah utama dalam mencegah penularan Virus Nipah, penyakit zoonotik berbahaya yang dapat menular dari hewan ke manusia dan memiliki tingkat kematian tinggi.

Bacaan Lainnya

Penekanan tersebut disampaikan melalui sosialisasi kesehatan kepada masyarakat yang memuat informasi mengenai karakteristik Virus Nipah, gejala klinis, fakta medis, serta langkah-langkah pencegahan yang perlu diterapkan secara disiplin oleh masyarakat.

Virus Nipah disebabkan oleh Nipah virus, anggota Genus Henipavirus dari Family Paramyxoviridae. Virus ini memiliki reservoir alami berupa kelelawar buah dari Genus Pteropus, yang dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi produk hewan atau buah yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia.

Kabid Dokkes Polda Papua Barat Daya, AKBP dr. Wahyu Satrio, menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran virus tersebut.

“Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang sangat berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi. Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk benar-benar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi membawa virus,” ujar AKBP dr. Wahyu Satrio, Selasa (4/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia obat maupun vaksin khusus untuk Virus Nipah. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4 hingga 14 hari, bahkan pada kondisi tertentu dapat mencapai 45 hari, sehingga deteksi dini menjadi sangat penting.

“Gejala awal sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan muntah. Namun, jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan, peradangan otak, kejang, hingga koma,” jelasnya.

Bidang Dokkes Polda Papua Barat Daya mencatat bahwa tingkat kematian akibat infeksi Virus Nipah berada pada kisaran 40 hingga 75 persen, sehingga masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala sekecil apa pun.

Sebagai langkah pencegahan, AKBP dr. Wahyu Satrio mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi nira atau air aren secara langsung dari pohonnya, mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi, serta memastikan daging ternak dimasak hingga benar-benar matang.

“Buang buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar, gunakan jaring pada kandang hewan, dan bagi petugas pemotongan hewan wajib menggunakan alat pelindung diri. Langkah-langkah sederhana ini sangat efektif untuk memutus rantai penularan,” tambahnya.

Bidang Dokkes Polda Papua Barat Daya juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Virus Nipah, guna mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat.

Melalui sosialisasi ini, Polda Papua Barat Daya berharap kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dapat terus meningkat dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit menular berbahaya di wilayah Papua Barat Daya.**

Pos terkait