Diduga Jadi Korban Penipuan, Mobil Warga Pemalang dan Pekalongan Tertahan di Markas Kesatuan Semarang

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Tim. 

PEKALONGAN, JATENG – Dua warga dari Kabupaten Pemalang dan Pekalongan mengaku menjadi korban dugaan penipuan yang terjadi saat mereka mengantarkan sebuah mobil ke salah satu markas kesatuan di Semarang. Korban, Puji Yuniarto (44), mengaku menjadi perantara dalam transaksi pembelian mobil sedan Ciaz tahun 2015 oleh seorang oknum anggota kesatuan. Namun, transaksi tersebut berujung pada penyitaan mobil tanpa kejelasan.

Puji menjelaskan, awalnya ia menerima informasi dari seorang temannya di Pekalongan bahwa ada anggota kesatuan yang berminat membeli mobil.

“Saya diminta mengantarkan mobil ke lokasi. Sebagai ganti ongkos antar, saya menerima transfer Rp 500 ribu yang nantinya akan dipotong dari hasil penjualan mobil,” ungkap Puji kepada wartawan, Rabu (4/12).

Setelah uang diterima, Puji bersama mobil tersebut menuju lokasi yang telah disepakati. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan oknum yang disebut sebagai pemesan mobil dan diantar melewati pos penjagaan hingga ke dalam kompleks kesatuan.

“Di lokasi, sudah ada anggota lainnya yang menunggu. Mobil dicek secara fisik, lalu dilanjutkan pengecekan melalui aplikasi untuk mendapatkan informasi lebih lengkap terkait kondisi mobil,” jelasnya.

Namun, hasil pengecekan itu justru memunculkan klaim bahwa mobil tersebut bermasalah. Meski Puji telah menjelaskan sejak awal bahwa mobil tersebut berasal dari perusahaan dengan bukti surat pelepasan yang sah, ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan lebih jauh.

“Malah kami ditinggal begitu saja bersama mobilnya,” katanya pasrah.

Puji yang hanya bertugas sebagai perantara merasa bingung harus menjelaskan kejadian tersebut kepada pemilik mobil. Saat mencoba melaporkan insiden itu ke pos penjagaan markas, ia malah diminta menulis kronologi lengkap untuk disampaikan kepada pimpinan.

“Ketika saya tanyakan mobilnya dibawa ke mana, tidak ada yang tahu. Bahkan, tidak ada yang mengaku mengenal oknum yang terlibat. Akhirnya, saya pulang ke Pekalongan dengan naik bus,” tutur Puji.

Ia juga mendapatkan informasi bahwa lokasi tersebut sering digunakan oleh oknum yang sama untuk transaksi serupa. Tidak hanya mobil, kendaraan berat seperti truk juga dilaporkan pernah menjadi sasaran modus ini.

Sebelum mobil dibawa pergi, oknum yang diduga sebagai pembeli sempat berpesan bahwa pemilik mobil diminta datang langsung untuk menyelesaikan urusan.

“Mobil tertahan, sementara saya pulang dengan tangan hampa. Tugas saya hanya mengantarkan mobil. Kalau memang tidak jadi membeli, seharusnya mobil dikembalikan,” ujar Puji dengan nada kecewa.

Korban berharap mobil tersebut dapat dikembalikan ke pemiliknya dan meminta pihak terkait untuk menindaklanjuti kasus ini agar tidak ada korban lain yang mengalami hal serupa.**

Pos terkait