Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA — Pemanfaatan dan hilirisasi bauksit semakin dinilai krusial dalam memperkuat rantai pasok industri nasional. Bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium merupakan bahan baku strategis bagi berbagai sektor, mulai dari manufaktur, konstruksi, transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki sumber daya bauksit sekitar 7,4 miliar ton, dengan cadangan mencapai 2,7 miliar ton yang berstatus siap ditambang. Besarnya potensi tersebut menunjukkan Indonesia memiliki modal mineral yang sangat kuat untuk mendorong program hilirisasi dan industrialisasi nasional.
Namun demikian, pemanfaatan cadangan bauksit selama ini dinilai belum optimal. Hal ini tercermin dari pola produksi yang masih didominasi ekspor bijih mentah. Produksi bijih bauksit nasional tercatat mencapai 31,8 juta ton pada 2022. Setelah kebijakan larangan ekspor bahan mentah diberlakukan, produksi menurun menjadi sekitar 19 juta ton pada 2023 dan kembali menyusut menjadi 16,8 juta ton pada 2024.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa percepatan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit di dalam negeri menjadi semakin mendesak. Hilirisasi dipandang sebagai langkah strategis agar cadangan mineral nasional dapat memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian, sekaligus memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, menilai program hilirisasi bauksit nasional akan memasuki fase krusial pada 2026. Menurutnya, Indonesia perlu terus mempercepat transformasi ekonomi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi berbasis nilai tambah.
“Indonesia mulai menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Pola lama pertambangan ekstraktif secara perlahan ditinggalkan, dan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk menekan defisit neraca pembayaran melalui pengolahan komoditas mineral di dalam negeri,” ujar Ferdy.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam mengoptimalkan peran Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, untuk mengintegrasikan rantai hilirisasi bauksit, mulai dari pengolahan menjadi alumina hingga aluminium. Integrasi tersebut dinilai strategis untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri nasional tanpa ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Bahan baku aluminium hasil pengolahan terintegrasi diharapkan menjadi fondasi terbentuknya rantai pasok industri yang kuat, mendukung sektor manufaktur, transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwandi Arif. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi global.
“Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak dimanfaatkan untuk sektor transportasi. Sementara di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya lebih dominan untuk sistem transmisi listrik, barang manufaktur, serta konstruksi,” ujar Irwandi dalam bukunya Bauksit Indonesia.
Sementara itu, kajian International Aluminium Institute menyebutkan bahwa kapasitas pemurnian alumina merupakan salah satu indikator utama dalam memperkuat daya saing industri suatu negara. Dengan terealisasinya pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan aluminium, baik untuk pasar domestik maupun global.
Ke depan, penguatan proyek hilirisasi bauksit diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan cadangan nasional, memperkokoh struktur industri dalam negeri, serta menjadikan aluminium sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi dan industrialisasi Indonesia di masa mendatang.**







