Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA – Pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang diinisiasi Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dinilai memberikan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap perekonomian daerah.
Mega proyek hilirisasi terintegrasi tersebut diproyeksikan menjadi motor penggerak transformasi ekonomi daerah, sekaligus memperkuat struktur industri nasional berbasis sumber daya alam bernilai tambah. Selain itu, proyek ini juga membuka peluang penyerapan tenaga kerja dalam skala besar serta mendorong tumbuhnya berbagai sektor usaha pendukung.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kalimantan Barat pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 4,90 persen. Dari sisi lapangan usaha, sektor Pertambangan dan Penggalian mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 31,48 persen.
Bupati Mempawah, Erlina, menyampaikan bahwa kehadiran proyek hilirisasi menjadi tonggak penting transformasi ekonomi daerah yang sebelumnya masih bertumpu pada aktivitas pertambangan bahan mentah. Menurutnya, hilirisasi mampu mendorong pergerakan ekonomi lintas sektor, menciptakan lapangan kerja baru, serta membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal.
“Pertama adalah penyerapan tenaga kerja, itu yang paling penting. Kedua, akan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi karena banyak masyarakat dari luar daerah yang datang. Hal ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Mempawah,” ujar Erlina usai pelaksanaan groundbreaking proyek pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Jumat (6/2/2026).
Ia menjelaskan, dampak ekonomi dari proyek hilirisasi yang telah berjalan sebelumnya mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Sejumlah usaha pendukung tumbuh di sekitar kawasan industri, seperti homestay, rumah kos, hingga berbagai usaha kuliner. Kondisi tersebut tidak hanya membuka sumber penghasilan baru, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
“Dengan adanya proyek ini, kebutuhan akan tempat tinggal dan layanan pendukung meningkat. Ini menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” tambahnya.
Selain dampak ekonomi jangka pendek, Erlina juga menyoroti kontribusi positif dari program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang dijalankan oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) selaku operator proyek. Program CSR tersebut dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Ia berharap, ke depan program CSR dapat terus dikembangkan, khususnya di sektor pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Dengan demikian, semakin banyak putra daerah yang memiliki kompetensi dan siap terserap di kawasan industri hilirisasi aluminium.
Saat ini, Grup MIND ID telah mengoperasikan fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah yang berfungsi mengolah bauksit menjadi alumina. Fasilitas ini menjadi mata rantai penting dalam ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium yang sebelumnya belum terintegrasi sepenuhnya di dalam negeri.
Melalui prosesi groundbreaking terbaru, Grup MIND ID melanjutkan pengembangan ekosistem hilirisasi dengan membangun Smelter Aluminium Baru serta SGAR Fase II. Pengembangan ini bertujuan memperkuat integrasi industri dari hulu hingga hilir, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional.
Dalam kesempatan yang sama, CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kontribusi program hilirisasi terhadap perekonomian nasional terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk mempercepat hilirisasi karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah.
“Jika kita lihat, kontribusi hilirisasi terus meningkat. Pada 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp580,4 triliun atau sekitar 30 persen dari total investasi nasional. Angka ini meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Rosan.
Ke depan, pemerintah juga mendorong pemerataan pengembangan hilirisasi agar tidak hanya terpusat di wilayah tertentu seperti Maluku dan Sulawesi, tetapi juga meluas ke berbagai daerah lain, termasuk Kalimantan Barat. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih merata, inklusif, dan berkelanjutan.**








