Laporan wartawan sorotnews.co.id : Irpan Sofyan.
JAKARTA – Kegiatan kerja bakti yang rutin digelar di lingkungan RT 01 RW 06, Kelurahan Wijaya Kusuma, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, kembali dilaksanakan pada Minggu pagi (25/05/2025). Kegiatan gotong royong ini bertujuan membersihkan saluran air demi menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Namun, partisipasi sejumlah warga, khususnya pemilik rumah mewah, kembali menjadi sorotan karena dinilai minim kontribusi.
Ketua RT 01, Deni Suryana, saat ditemui di lokasi menyampaikan apresiasinya kepada warga yang hadir dan turut serta dalam kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, kerja bakti yang kami laksanakan setiap tiga bulan ini masih bisa berjalan dengan semangat gotong royong dari warga. Meski ada beberapa yang belum sepenuhnya sadar dan turut serta, saya tetap berterima kasih kepada yang sudah hadir dan bekerja sama membersihkan lingkungan. Semoga wilayah kita menjadi aman, asri, dan bersih,” ujar Deni.
Ia juga mengimbau agar warga lebih peduli terhadap kondisi lingkungan, terutama menjaga kebersihan saluran air di sekitar rumah masing-masing.
“Kalau lingkungan kotor, itu bisa menimbulkan penyakit. Saya harap ke depannya semua warga ikut berperan, sekecil apa pun,” tambahnya.
Namun di balik semangat gotong royong tersebut, muncul keluhan dari warga yang merasa hanya sebagian kecil masyarakat yang aktif dalam kegiatan kebersamaan ini.
“Saat kerja bakti, yang turun tangan itu-itu saja. Sedangkan pemilik rumah besar dan mewah seakan tutup mata. Tidak ada inisiatif atau kepedulian dari mereka,” keluh salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Ia menambahkan bahwa sikap apatis tersebut berpotensi memicu ketidakpuasan dan gesekan sosial di lingkungan RT.
“Kita ingin lingkungan bersih dan rukun. Tapi kalau ada yang merasa dirinya tidak perlu ikut karena merasa lebih dari yang lain, itu bisa menimbulkan kecemburuan,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, Deni Suryana mengaku menyadari adanya ketimpangan partisipasi dan akan mencoba mengambil langkah persuasif.
“Ke depan, kami akan coba komunikasikan lagi dengan warga yang jarang ikut. Mungkin mereka tidak tahu manfaat kerja bakti atau ada alasan lain. Kalau pun tidak bisa ikut langsung, saya akan ajak mereka untuk mendukung dalam bentuk lain, seperti bantuan konsumsi atau dukungan logistik,” pungkasnya.
Kerja bakti adalah salah satu bentuk tradisi gotong royong masyarakat Indonesia yang memiliki tujuan tidak hanya kebersihan fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga. Dalam konteks urban seperti Jakarta, kerja bakti menjadi sarana penting dalam merawat solidaritas dan mencegah ketimpangan sosial di tingkat akar rumput. **








