Kurangnya Penegasan Pihak Sekolah, Partisipasi Siswa SMAN 1 Napabalano Menurun Dalam Upacara Kemerdekaan

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Minardi. 

MUNA, SULTRA – Partisipasi siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Napabalano dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini menunjukkan penurunan yang signifikan. Diduga kuat, hal ini disebabkan oleh kurangnya penegasan dan sosialisasi dari pihak sekolah terkait pentingnya kehadiran dan peran siswa dalam kegiatan sakral tersebut.

Upacara kemerdekaan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan momen krusial untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, dan penghormatan terhadap jasa pahlawan. Jika siswa enggan berpartisipasi, maka esensi dan tujuan dari upacara tersebut tidak akan tersampaikan secara optimal.

Beberapa siswa yang ditemui di sekitar lingkungan sekolah mengeluhkan bahwa tidak ada imbauan atau kewajiban yang jelas dari guru atau kepala sekolah untuk mengikuti upacara.

“Tidak ada arahan khusus dari sekolah, jadi banyak yang tidak datang,” ujar salah seorang siswa yang enggan disebutkan namanya.

Menurut salah seorang warga yang enggan disebut kan namanya, “akibat kurangnya ketegasan sekolah tentu pasti berdampak pada hilangnya kedisiplinan dan pudarnya rasa nasionalisme,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa menurun nya partisipasi siswa sekolah yang jika dibiarkan tanpa konsekuensi tentu itu akan menjadi salah satu contoh paling buruk bagi adik-adik mereka yang masih Sekolah Dasar (SD). Tambahnya

Lanjut dari pada itu dirinya menganggap bahwa yang dilakukan oleh siswa-siswi SMAN 1 Napabalano dapat mencoreng citra sekolah. Sambungnya

Sementara itu Kepala Sekolah SMAN 1 Napabalano Safiudin Mada, S.Pd, saat dikonfirmasi di ruangan kerjanya, mengatakan bahwa dirinya juga belum mengetahui secara pasti akibat dari menurunnya partisipasi siswa-siswi SMAN 1 Napabalano di upacara memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80.

“Saya pastikan dulu sama guru-guru nya apakah ada himbauan atau tidak,” katanya singkat.

“Setiap upacara kemerdekaan atau hari besar lainnya itu kami pihak sekolah hanya mengutus 1 atau 2 barisan sebagai perwakilan,” tambahnya.

Menanggapi ucapan dari Kepala Sekolah SMAN 1 Napabalano seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengucapkan bahwa

“Yang dikatakan oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Napabalano merupakan sebuah penurunan yang signifikan, dimasa kami sekolah tidak pernah ada istilah perwakilan itu.” ujarnya.

“Upacara kemerdekaan Republik Indonesia bukan upacara biasa. Upacara kemerdekaan adalah momentum kita mengenang dan sebagai bentuk penghormatan serta terimakasih kita kepada jasa para pahlawan Republik Indonesia. Yang dimana tanpa perjuangan para pahlawan hari ini kita hanya akan selalu hidup dalam gelap dan tangisan.” tutupnya.**

Pos terkait