Lahan 350 Hektar Terendam Rob, Pemkab Batang dan BPI Tanam 60 Ribu Mangrove

Foto: Ratusan relawan terlibat aksi menanam puluhan ribu bibit Mangrove di lahan pertanian Desa Denasri Kulon, Kabupaten Batang yang sudah berubah menjadi rawa, Rabu (15/10).

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin. 

BATANG, JATENG – Pemerintah Kabupaten Batang dan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) menanam sebanyak 60 ribu bibit mangrove di sepanjang pesisir pantai sebagai bagian dari program Mageri Segoro yang dilaksanakan serentak di seluruh wilayah pesisir Jawa Tengah, Selasa (15/10/2025).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Gubernur Jawa Tengah sekaligus menjadi bagian dari gerakan besar penanaman 1,6 juta bibit mangrove yang memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Wakil Bupati Batang Suyono mengatakan, penanaman mangrove di 11 titik sepanjang pantai Batang ini menjadi langkah konkret untuk menekan laju abrasi dan melindungi lahan pertanian yang telah lama terdampak rob.

“Hari ini introduksi dari Gubernur sekaligus mendapatkan MURI 1.600.000 bibit. Di Kabupaten Batang sendiri ada 11 titik dengan total 57.000 tanaman mangrove dalam rangka Mageri Segoro. Ini ikhtiar agar tidak terjadi abrasi yang lebih masif,” ujar Suyono di sela kegiatan.

Menurutnya, sedikitnya 350 hektare lahan pertanian di pesisir Batang kini tak lagi bisa ditanami akibat rob yang terjadi sejak 2019. Karena itu, penanaman mangrove diharapkan mampu menjadi solusi alami untuk menahan air laut agar tidak semakin masuk ke daratan.

“Di sekitar kita ada tanah seluas 350 hektare yang sudah kena rob, tidak bisa ditanami apapun. Sekarang kita tanam mangrove agar tidak terjadi hal-hal yang lebih meluas,” jelasnya.

Suyono menambahkan, pemerintah daerah juga berharap dukungan dari pemerintah pusat untuk pembangunan pagar laut (sea wall) di sepanjang pantai utara Jawa, termasuk wilayah Batang. Program tersebut diyakini bisa mengembalikan fungsi lahan pesisir agar kembali produktif.

“Kalau nanti program pagar laut dari pusat terlaksana dan Batang juga dilewati, tanah ini bisa ditanami kembali dan punya nilai ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Wabup juga mengapresiasi peran berbagai perusahaan yang ikut berpartisipasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT BPI yang menjadi pengelola PLTU Batang. Ia menilai, kolaborasi swasta sangat penting untuk mendukung pembangunan daerah di tengah keterbatasan anggaran.

“Kabupaten Batang mendapat pengurangan dana transfer daerah sekitar Rp225 miliar atau sekitar 10 persen. Jadi kami harap perusahaan jangan bosan-bosan ikut serta membangun lewat CSR, terutama dalam menjaga ekosistem pesisir,” ujarnya.

Suyono menegaskan, gerakan penanaman mangrove bukan hanya upaya lingkungan, tapi juga bentuk investasi jangka panjang untuk keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.**

Pos terkait