Mengenal SDI Kembo, Yang Terletak di Perbatasan Manggarai -Ngada

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Marselin SK. 

MANGGARAI TIMUR, NTT – Pekikan kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia yang ke-80 tahun 2025 telah merambah diseluruh wilayah NKRI.

Realitanya tentu berbeda, ada yang terdengar lantang dan menggema ada juga yang terdengar sayup-satup, bahkan ada yang tidak terdenger sama sekali, namun mereka merasakanya.

Demian yang terjadi dengan Keluarga besar SDI Kembo, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Mereka tak beda dengan sekolah dasar yang lain merayakan HUT RI ke-80 bersama dengan Perangkat desa dan lembaga pendidikan yang lain. Namun itu terdengar sayup-sayup, bahkan nyaris tak terdengar.

Alasanya cukup jelas karena di sekah mereka bahkan di Desa mereka Golo Lijun saat ini belum masuk Perusaan listrik negara dari PLN juga mengalami gangguan jaringan internet.

Berbagai keluhan telah mereka sampaikan bersama warga desa namun sampai saat ini belum terjawab oleh pemerintah pusat. Mereka merindukan jawaban pasti.

SDI Kembo sendiri memiliki 13 orang guru dengan rincian Guru PNS 5 orang, Guru PPPK 1 orang, Guru bosda 4 orang, Guru komite 2 orang dan Opertor 1 orang. Dengan jumlah siswa untuk tahun 2025/2026 sebanyak 109 orang.

SDI Kembo juga memiliki beberapa gedung untuk kelangsungan proses belajar mengajar diantaranya, Gedung A memiliki

4 ruangan. 1 ruangan digunakan untuk kantor dan 3 digunakan untuk  kelas 1-3. Sementara Gedung B memilii 3 ruangan dan digunakan untuk kelas 4-6 dan Gedung C  digunakan untuk Perpustakaan.

Banyak keterbatasan yang ada disekolah kami seperti Meja dan Kursi siswa, namun pelan-pelan kami membenahinya sejak saya menjadi Kepala Sekolah tutur Rosalia Delima, S.Pd, saat bertemu wartawan Sorotnews pada 21 Agustus 2025.

Sumber pendanaanya kami ambil dari Partisipasi orang tua murid. Dengan cara yang terima PIP kami potong Rp50.000 (Lima puluh Ribu Rupiah), ketika sudah cair dan yang tidak dapat PIP orang tua siswa langsung mengumpulkan uang Rp50.000 tersebut.

Semua kami lakukan melalui rapat para guru serta komite dan bukan keputusan pribadi saya selaku Kepala Sekolah. Saya selalu mengedepankan unsur musyawarah untuk mufakat.

Kami juga pernah mendapat bantuan BOS Afirmasi tahun 2020 sebanyak Rp.60.000.000(Enam.puluh juta rupiah)Dan saat itu kami langsung membeli 30 meja dan 30 kursi, 1 kursi pimpinan, 1 meja setengah biro dan 2 buah papan white board yang ukuran besar. Sejak saat ini sudah digunakan namun itupun masih kurang, sehingga kami tetap mencari jalan keluar yang lain.

Sekolah kami awalnya banyak keterbatasan namun seiring berjalanya waktu kami berusaha membenahinya dengan baik sehingga sekarang semuanya nampak lebih bagus.

Saya dan para guru-guru terus mengupayakan yang terbaik untuk keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah kami, tentu demi terciptanya generasi indonesia yang Cerdas, unggul dan Maju, tutup Rosalia.**

Pos terkait