Mural Pasar Rangkasbitung Rusak dan Kumuh, Daya Tarik Wisata yang Terabaikan?

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Nengsih. 

LEBAK, BANTEN – Harapan besar terhadap mural di dinding pagar Pasar Rangkasbitung sebagai elemen estetika kota sekaligus daya tarik wisata kini tinggal kenangan. Lukisan mural yang membentang sepanjang 47 meter persegi dan dibangun pada Agustus 2023, kini dalam kondisi rusak dan memprihatinkan.

Pantauan langsung pada Senin, 9 Juni 2025, menunjukkan bahwa warna-warna cerah dan gambar bertema wisata yang dulunya menghiasi dinding kini nyaris hilang. Cat mengelupas, gambar memudar, dan beberapa bagian dinding bahkan kotor serta tertutup oleh barang dagangan milik pedagang pasar subuh.

Padahal, proyek mural ini didanai melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh salah satu perusahaan di Kabupaten Lebak. Tujuannya jelas—mendukung penataan kawasan pasar sekaligus memberikan nilai tambah visual bagi pengunjung yang datang ke pusat ekonomi tradisional tersebut.

Ironisnya, lokasi yang seharusnya menjadi spot foto atau simbol penataan kota kini berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan barang. Pagar pasar yang dulunya menjadi ‘galeri terbuka’ berubah menjadi area kumuh, mencederai upaya-upaya pemerintah daerah dalam membangun citra pariwisata yang bersih dan menarik.

Warga sekitar yang ditemui Sorot News mengaku kecewa. “Dulu bagus, warnanya cerah dan banyak orang yang foto di situ. Sekarang malah jadi tempat penyimpanan barang. Jadi keliatannya rusak dan kumuh,” ujar Rohmah, salah satu warga Rangkasbitung yang berbelanja di pasar.

Kerusakan mural ini tidak hanya berdampak secara visual, tetapi juga secara strategis terhadap citra Kabupaten Lebak sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan sejarah di Banten. Mengingat Rangkasbitung dikenal dengan jejak budaya Multatuli dan keunikan pasarnya, elemen estetika seperti mural seharusnya menjadi bagian dari perencanaan tata kota yang berkelanjutan.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Yani, belum memberikan tanggapan resmi atas konfirmasi yang dilayangkan oleh wartawan.

Masyarakat dan pelaku wisata berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dalam merespons kondisi ini, termasuk perbaikan mural dan pengawasan rutin agar fasilitas publik seperti ini tidak kembali rusak dalam waktu singkat.

Kerusakan mural ini menjadi cerminan tantangan dalam menjaga ruang publik di daerah. Keindahan kota bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana merawat dan menjaga fasilitas yang ada agar terus memberi manfaat dan kebanggaan bagi warga.

Pemkab Lebak diharapkan segera melakukan evaluasi dan aksi pemulihan agar mural Pasar Rangkasbitung bisa kembali menjadi ikon visual yang memperindah wajah kota dan mendukung geliat pariwisata lokal.**

Pos terkait