Nursih Gunar, Tokoh Umat Buddha Dusun Tebango yang Jadi Inspirasi Lintas Generasi

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Endi Tarwadi. 

LOMBOK UTARA, NTB – Masih sehat di usia 80 tahun, pernah berjabat tangan dengan Presiden Soeharto, dan menjadi panutan umat di Bumi Tioq Tata Tunaq.

Sosok sepuh yang penuh kebijaksanaan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bapak Nursih Gunar, tokoh umat Buddha dari Dusun Tebango, Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, dikenal luas karena keteladanan dan semangat hidupnya yang tak pernah padam, meski kini usianya telah mencapai sekitar 80 tahun.

Sehari-hari, beliau dikenal ramah, sederhana, dan disiplin. Tak hanya dihormati oleh umat Buddha, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat lintas agama di wilayah Pemenang Timur.

“Bapak Nursih selalu mengajarkan kami untuk hidup dengan hati bersih, membantu sesama tanpa pamrih, dan menjaga kerukunan. Beliau seperti pelita yang menerangi kami semua,” ujar Mangku Ayu Jumar, salah satu tokoh umat Buddha Dusun Tebango.

Perjalanan hidup Bapak Nursih Gunar penuh kisah inspiratif. Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, beliau pernah berjabat tangan langsung dengan sang Presiden, sebuah momen bersejarah yang menjadi kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat.

Peristiwa tersebut menjadi simbol penghargaan atas dedikasi beliau dalam menjaga kerukunan umat dan membangun kehidupan sosial yang damai di Lombok Utara.

“Bapak sering bercerita tentang momen itu dengan mata berbinar. Itu bukan hanya kebanggaan pribadi, tapi kebanggaan seluruh keluarga. Artinya perjuangan dan ketulusan beliau diakui,” tutur Ibu Kartinah selaku Mangku Sedahan.

Walau usia senja telah tiba, semangat Bapak Nursih tetap menyala. Hampir setiap sore, beliau duduk di beranda rumahnya, menyapa warga yang lewat, sambil menebar pesan kebajikan.

“Jangan pernah lelah berbuat baik, karena kebaikan itu akan kembali kepada kita,” pesan beliau yang sering diingat para pemuda Dusun Tebango.

Filosofi hidupnya berakar kuat pada nilai Tioq Tata Tunaq, falsafah luhur masyarakat Lombok Utara yang menekankan persatuan, kesetiaan, dan kebersamaan dalam keberagaman.

Tokoh masyarakat Dr. Muchsin menilai Bapak Nursih Gunar sebagai figur langka dan berharga bagi daerah.

“Beliau adalah tokoh lintas generasi. Walau beliau umat Buddha, masyarakat dari berbagai agama menghormatinya. Nilai toleransi dan persaudaraan yang beliau tanamkan adalah warisan yang patut dijaga,” ungkap Dr. Muchsin.

Kini, Bapak Nursih Gunar bukan hanya menjadi panutan bagi umat Buddha, tetapi juga teladan bagi seluruh masyarakat Lombok Utara. Warisan moral, ajaran kebajikan, dan ketulusan hatinya terus menjadi sumber motivasi bagi generasi penerus untuk hidup rukun dan berbuat baik di Bumi Tioq Tata Tunaq.**

Pos terkait