Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri.
YOGYAKARTA – Pantai selatan Yogyakarta, khususnya Pantai Parangtritis, kembali menjadi destinasi yang meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung. Dikenal sejak lama sebagai pantai yang sarat legenda, kawasan ini menawarkan keindahan alam yang eksotis sekaligus pengalaman wisata yang beragam.
Pada Rabu, 25 Maret 2026, jurnalis Sorotnews Koordinator Wilayah Jawa Timur bersama keluarga melakukan kunjungan wisata ke kawasan tersebut. Pantai yang berjarak sekitar 29 kilometer dari Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta ini dikenal luas sebagai salah satu destinasi paling populer di Kabupaten Bantul.
Pantai Parangtritis memiliki ciri khas pasir hitam vulkanik, ombak besar khas Laut Selatan, serta panorama matahari terbenam yang memukau. Secara administratif, pantai ini berada di Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di sekitar kawasan ini juga terdapat beberapa destinasi lain, seperti Pantai Parangkusumo yang dikenal dengan hamparan gumuk pasir (sand dunes) serta kerap digunakan untuk kegiatan budaya dan ritual tradisional masyarakat setempat.
Beragam aktivitas wisata ditawarkan kepada pengunjung, mulai dari wisata menggunakan jeep menyusuri kawasan pantai dengan tarif berkisar Rp400.000 hingga Rp700.000, hingga wahana santai seperti delman dan penyewaan ATV dengan harga mulai dari Rp50.000. Aktivitas tersebut memberikan pengalaman berbeda dalam menikmati bentang alam pesisir selatan.
Selain keindahan alamnya, Pantai Parangtritis juga lekat dengan cerita legenda Nyai Roro Kidul yang menjadi bagian dari kearifan lokal dan daya tarik budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Tak lengkap rasanya berkunjung ke Yogyakarta tanpa mencicipi kuliner khasnya, salah satunya Gudeg. Di Kabupaten Bantul, terdapat salah satu penjual gudeg legendaris yang telah bertahan lebih dari dua dekade, yakni usaha milik Ibu Sunarni.
Ibu Sunarni mulai berjualan gudeg sejak tahun 2001 di kawasan depan Kampus Universitas PGRI Yogyakarta, Jalan Sonosewu, Bantul. Seiring perubahan tata lalu lintas pada tahun 2006, ia kemudian memindahkan lapaknya sekitar 20 meter dari lokasi awal.
Kini, usahanya berlokasi di Jalan Sonosewu, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Meski tampil sederhana, gudeg racikan Bu Sunarni telah dikenal luas oleh masyarakat Bantul dan Kota Yogyakarta.
Setiap harinya, ia mulai berjualan pukul 06.00 WIB hingga dagangan habis, biasanya dalam waktu sekitar tiga jam. Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar 3 kilogram beras untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Menu yang ditawarkan meliputi nasi gudeg dan bubur gudeg dengan harga terjangkau. Untuk paket lauk telur dibanderol sekitar Rp14.000, sedangkan paket ayam lengkap—terdiri dari ayam paha, telur, dan suwiran ayam—sekitar Rp22.000.
Cita rasa gudeg Bu Sunarni dinilai khas dan cocok di lidah berbagai kalangan, termasuk pengunjung dari luar daerah. “Rasanya enak dan cocok di lidah, termasuk bagi kami yang berasal dari Jawa Timur,” ujar jurnalis Sorotnews yang tengah berlibur di Yogyakarta.
Keberadaan gudeg Bu Sunarni menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap mampu bertahan dan diminati, meskipun berada di tengah persaingan kuliner modern.
Kunjungan ke Pantai Parangtritis tidak hanya menghadirkan panorama alam yang memikat dan sarat legenda, tetapi juga membuka kesempatan untuk menikmati kekayaan kuliner lokal yang autentik. Perpaduan wisata alam, budaya, dan kuliner menjadikan Yogyakarta tetap sebagai destinasi unggulan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.**








