Proyek Tambang Bawah Tanah Kucing Liar Perkuat Kontribusi PT Freeport Indonesia bagi Negara

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya. 

JAKARTA – PT Freeport Indonesia (PTFI), anggota Grup MIND ID, diproyeksikan akan semakin memperkuat kontribusinya bagi perekonomian nasional menyusul temuan dan pengembangan proyek tambang bawah tanah terbaru, Kucing Liar.

Proyek tersebut diyakini akan meningkatkan kapasitas produksi perusahaan secara signifikan dan berdampak positif terhadap pendapatan korporasi serta kontribusinya kepada negara melalui pajak, royalti, dan dividen.

Berdasarkan laporan terbaru Freeport-McMoRan (FCX), proyek Kucing Liar yang mulai dikembangkan pada 2022 berpotensi meningkatkan kapasitas produksi dari 90.000 ton menjadi 130.000 ton bijih per hari. Tambang ini diproyeksikan mampu menghasilkan rata-rata 750 juta pon tembaga dan 735 ribu ons emas per tahun, atau meningkat lebih dari 35 persen dari estimasi awal.

Dengan pengembangan proyek tersebut, cadangan mineral PTFI diperkirakan meningkat sekitar 20 persen, dengan total cadangan mencapai 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas. Umur tambang diproyeksikan dapat diperpanjang hingga tahun 2041.

Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandi Arif, menilai pertumbuhan cadangan mineral ini menjadi sinyal positif bagi masa depan industri pertambangan, khususnya di Papua.

“Jika cadangan tembaga bertambah, otomatis cadangan emas dan perak juga ikut meningkat. Cadangan adalah nyawa bagi suatu tambang, dan peluang pengembangannya semakin menjanjikan,” ujar Irwandi.

Ia menambahkan, peningkatan cadangan akan memperkuat keberlanjutan operasional sekaligus menjaga stabilitas produksi jangka panjang.

Dalam laporan FCX disebutkan, PTFI memerlukan tambahan investasi sekitar US$0,5 miliar atau meningkat 10 persen dari rencana awal untuk mengakselerasi pengembangan tambang bawah tanah tersebut.

Proyek Kucing Liar diproyeksikan menjadi tambang bawah tanah keempat yang dioperasikan PTFI di kawasan Grasberg, setelah Grasberg Block Cave, Deep Mill Level Zone (DMLZ), dan Big Gossan.

Kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) diperkirakan mencapai sekitar US$500 juta per tahun selama periode pembangunan tujuh hingga delapan tahun ke depan.

Selain memperkuat kinerja keuangan Grup MIND ID, proyek strategis ini juga diharapkan membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi Papua, antara lain melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi lokal, serta kontribusi terhadap pendapatan daerah dan nasional.

Dengan penguatan kapasitas produksi dan penambahan cadangan mineral, PTFI diproyeksikan tetap menjadi salah satu penopang utama sektor pertambangan nasional sekaligus motor penggerak pembangunan ekonomi berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.**

Pos terkait