Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya
JAKARTA – PT Dirgantara Indonesia (PT DI) telah mengirimkan sejumlah teknisi ke Prancis untuk mempelajari pesawat tempur Rafale yang akan segera dimiliki oleh Indonesia. Langkah ini dilakukan guna memastikan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam mengoperasikan serta merawat pesawat tempur generasi terbaru tersebut secara mandiri di masa mendatang.
Direktur Utama PT DI, Gita Amperiawana, mengonfirmasi bahwa teknisi telah dikirim ke Prancis untuk mengikuti pelatihan langsung di fasilitas Dassault Aviation, produsen Rafale.
“Sudah dikirim ke sana (Prancis),” ujar Gita di Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/2).
Meskipun tidak merinci jumlah teknisi yang dikirim maupun durasi pelatihan, Gita menjelaskan bahwa PT DI telah mendapatkan program offset dari kerja sama dengan Dassault Aviation. Program ini mencakup pelatihan teknisi hingga pengembangan Computer-Based Training (CBT) yang akan digunakan untuk mendukung pembelajaran dan simulasi pengoperasian Rafale.
Dengan adanya program ini, teknisi PT DI serta personel TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang nantinya bertugas sebagai operator Rafale dapat menjalani pelatihan dasar menggunakan teknologi berbasis komputer. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi SDM nasional dalam mengoperasikan serta merawat pesawat tempur canggih tersebut sesuai standar internasional.
Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, mengungkapkan bahwa TNI AU dijadwalkan menerima enam unit Rafale dari Prancis pada tahun 2026.
“Di tahun depan, sekitar Februari atau Maret, kami sudah mulai kedatangan pesawat Rafale, tiga pesawat, dan tiga bulan kemudian tiga pesawat lagi. Jadi, di pertengahan tahun depan, kami sudah punya enam pesawat Rafale,” kata Tonny usai menghadiri Rapat Pimpinan TNI AU di Markas Besar TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (3/2).
Sebagai bagian dari persiapan, TNI AU telah menetapkan Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Riau, sebagai home base bagi enam pesawat tempur tersebut. Berbagai fasilitas pendukung telah disiapkan, termasuk pembangunan simulator, hanggar modern berbasis smart building, serta peningkatan fasilitas penerbangan dan sistem logistik.
“Di Pekanbaru, kami sudah membangun simulator, kemudian hanggar-hanggar yang kami bilang smart building, fasilitas-fasilitas penerbangan di sana pun kami perbaiki, terus sistem logistik juga sedang berproses kami bangun. Jadi, semua persiapan untuk sarana dan prasarana sudah dilakukan di Pekanbaru,” jelasnya.
Selain itu, TNI AU juga telah menyeleksi sejumlah personel untuk mengikuti pendidikan calon penerbang Rafale. Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan latar belakang pengalaman mereka dalam mengoperasikan berbagai jenis pesawat tempur yang saat ini dimiliki TNI AU.
Dengan adanya pelatihan teknisi di Prancis serta berbagai persiapan infrastruktur di dalam negeri, diharapkan Indonesia dapat mengoperasikan pesawat Rafale secara optimal. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam membangun kemandirian pertahanan nasional, khususnya dalam hal pemeliharaan dan operasional alat utama sistem persenjataan (alutsista) canggih.**







