Refleksi 97 Tahun Sumpah Pemuda: Menyalakan Kembali Api Persatuan di Era Digital

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Tim. 

MUNA, SULSEL – Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, momen bersejarah yang telah menjadi titik balik lahirnya kesadaran kebangsaan dan identitas nasional. Tahun 2025 ini, peringatan Sumpah Pemuda memasuki usia ke-97 – hampir satu abad sejak para pemuda tahun 1928 menegaskan tiga ikrar sakral: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa – Indonesia.

Bacaan Lainnya

Namun di balik gegap gempita perayaan itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan bersama: Apakah semangat Sumpah Pemuda masih hidup dalam diri generasi muda hari ini?

Pertanyaan itu menggelitik hati Agus Minardi, seorang pegiat literasi asal Kecamatan Napabalano, yang pada 2016–2018 aktif menggerakkan kegiatan baca-tulis dan pendidikan karakter di lingkungannya. Agus juga dikenal melalui gerakan sosial “Peduli Kasih Napabalano”, yang menjadi ruang kepedulian dan gotong royong di kalangan pemuda setempat.

Bagi Agus, Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan sumber energi moral yang harus terus dihidupkan di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi yang kian mengguncang nilai-nilai kebangsaan.

1. Persatuan dan Kolaborasi adalah Kekuatan Abadi

Agus mengingatkan bahwa nilai-nilai Sumpah Pemuda tahun 1928 harus dimaknai secara kontekstual — bukan hanya satu bangsa dan satu bahasa secara simbolik, tetapi juga satu semangat untuk bersinergi dan berkolaborasi lintas suku, agama, budaya, dan generasi.

“Kita tidak akan pernah maju tanpa kolaborasi. Generasi muda hari ini harus berhenti berkompetisi secara sempit dan mulai membangun kerja sama lintas batas demi kemajuan bangsa,” ujarnya.

2. Pemuda Sebagai Arah Baru Pembangunan

Bagi Agus, peran pemuda di era digital bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta arah perubahan.
Ia menekankan agar generasi milenial dan Gen-Z menjadi aktor aktif pembangunan, bukan penonton pasif. Melalui kreativitas, inovasi sosial, dan keberanian berpikir kritis, pemuda bisa menjadi motor penggerak yang membawa bangsa ke arah Indonesia Emas 2045.

3. Menanam Nasionalisme di Ruang Digital

Kemajuan teknologi membawa peluang sekaligus ancaman. Di satu sisi, internet membuka ruang ekspresi tanpa batas; di sisi lain, ia melahirkan disinformasi, hoaks, dan ujaran kebencian yang dapat merusak persatuan.

Agus menegaskan bahwa nasionalisme era digital harus lahir dari kesadaran etis, bukan sekadar slogan.

“Cinta tanah air hari ini bisa diwujudkan lewat cara sederhana – seperti menyebarkan informasi benar, menghargai perbedaan, dan menggunakan media sosial untuk menebar semangat kebangsaan, bukan kebencian.”

4. Bergerak Maju Tanpa Melupakan Akar

Menurut Agus, kemajuan sejati adalah ketika generasi muda berani menatap masa depan tanpa kehilangan akar budaya dan moral bangsa. Progresivitas bukan berarti meninggalkan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, gotong royong, dan empati — melainkan menghidupkannya dalam bentuk baru yang relevan dengan zaman.

5. Gotong Royong: DNA Bangsa yang Tak Boleh Pudar

Agus mengingatkan bahwa lahirnya Sumpah Pemuda adalah hasil kolaborasi lintas daerah dan latar belakang. Itulah bukti bahwa Indonesia berdiri di atas kekuatan kolektif.
Kini, semangat gotong royong itu harus dihidupkan kembali, tidak hanya di lapangan sosial, tetapi juga dalam dunia digital, ekonomi kreatif, hingga kebijakan publik.

“Kita tidak bisa mencapai Indonesia Emas sendirian. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha adalah kunci untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa,” tegasnya.

Menutup refleksinya, Agus Minardi menulis kalimat yang menggugah:

“Refleksi 97 Tahun Sumpah Pemuda adalah ajakan untuk mentransformasikan semangat persatuan masa lalu menjadi aksi nyata di masa kini. Generasi muda ibarat besi yang ditempa oleh tantangan zaman — dari panas perjuangan itu harus lahir cahaya yang menerangi masa depan bangsa.”

Sumpah Pemuda adalah nyala api yang tak boleh padam. Ia bukan sekadar catatan sejarah, tetapi panggilan moral bagi setiap anak muda Indonesia untuk terus bergerak, berkarya, dan berkolaborasi. Karena masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cerdas, tetapi oleh siapa yang paling peduli dan berbuat untuk sesamanya.**

Pos terkait