Remaja Jepang dan Prancis Sekolah Mangrove di Pekalongan

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin. 

PEKALONGAN, JATENG – Sekolah Mangrove Banawa Sekar di Kawasan Ekowisata Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan jadi jujukan belasan anak muda dari dalam dan luar negeri yang ingin belajar konservasi. Selain dikenalkan jenis mangrove lokal, mereka juga diajari praktik menanam langsung ke area konservasi.

Di antara peserta, ada enam remaja asal Jepang dan satu perempuan muda asal Prancis yang sengaja datang untuk mengenal lebih dekat konservasi mangrove di Indonesia. Mereka bergabung bersama sembilan peserta lain dari komunitas lokal dan perguruan tinggi.

Kousuke (21), salah satu peserta dari Jepang, mengaku sangat antusias meski sempat kaget saat pertama kali masuk ke area rob berlumpur.

“Ini pertama kali saya mencoba masuk ke lumpur yang dalam. Rasanya aneh sekali, bahkan saya sempat teriak-teriak karena kaget,” ucapnya saat ditemui di lokasi tanam, Kamis (4/9/2025).

Ia bercerita, berjalan di lumpur cukup sulit. Namun seiring berjalannya kegiatan, dirinya mencoba menyesuaikan diri. Apalagi, ia mendapat pengalaman baru dengan menanam mangrove bersama peserta dari berbagai universitas lokal.

“Awalnya susah, tapi lama-lama jadi menyenangkan. Saya belajar cara menanam mangrove dan ternyata butuh kesabaran. Seru sekali,” tambah Kousuke.

Tidak hanya peserta asal Jepang, Alice (22) dari Prancis juga ikut larut dalam kegiatan ini. Ia mengaku datang ke Banawa Sekar karena tertarik pada isu lingkungan.

“Saya suka isu lingkungan, jadi ketika tahu ada ekowisata mangrove di sini, saya langsung ingin belajar,” ujarnya.

Alice menyebut kegiatan konservasi di Pekalongan memberinya pengalaman berbeda. Di Prancis, ia belum pernah merasakan berjalan di area lumpur hingga sepinggang hanya untuk menanam pohon.

“Ini kegiatan yang ekstrem sekaligus menyenangkan. Saya kaget tapi senang bisa mencoba,” ungkapnya.

Selain pengalaman fisik, Alice juga menyoroti persoalan lingkungan yang berbeda antara Indonesia dan negaranya. Menurutnya, masalah di Indonesia lebih kompleks.

“Di sini ada sampah, rob, penurunan muka tanah, dan pemanasan global. Kalau di Prancis, lebih fokus ke persoalan sampah,” jelasnya.

Sementara itu, Ridho Ketua Kelompok Tani Banawa Sekar menjelaskan bahwa kegiatan sekolah mangrove kali ini memang dirancang untuk mengenalkan peserta pada keanekaragaman mangrove lokal.

“Hari ini kita ajari empat jenis dari 20 jenis mangrove yang biasa ditanam di area konservasi seluas 24 hektare,” tuturnya.

Empat jenis mangrove yang dikenalkan antara lain Rhizophora Mucronata (bakau merah), Avicennia (api-api), Sonneratia Alba atau Pidada yang bisa diolah menjadi sirup, serta Bruguiera gymnorrhiza atau lindur. Jenis-jenis itu menjadi andalan dalam menjaga ekosistem pesisir.

Ia menambahkan, Banawa Sekar rata-rata mampu memproduksi 50 ribu hingga 70 ribu bibit mangrove setiap tahun. Bibit tersebut tidak hanya digunakan untuk stok konservasi, tetapi juga dipasarkan ke pihak lain yang membutuhkan.

Banawa Sekar sendiri berdiri sejak 2021, sebagai respon terhadap kerusakan pesisir akibat rob yang melanda sejak 2010.

“Dulu, rumah-rumah warga terendam. Banyak yang kehilangan mata pencaharian. Sejak mangrove ditanam, perlahan ekosistem pulih dan warga bisa bangkit,” terangnya.

Kini, kawasan mangrove itu berkembang menjadi ekowisata sekaligus pusat pembelajaran lingkungan. Kehadiran tamu dari luar negeri seperti Kousuke dan Alice semakin menambah semangat kelompok tani untuk terus menjaga kelestarian.

“Semoga pengalaman mereka di sini bisa dibawa pulang, menjadi cerita bahwa Pekalongan bukan hanya batik, tapi juga punya perjuangan melawan rob lewat mangrove,” tutup Ridho.**

Pos terkait