Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri.
SURABAYA, JATIM – Keberadaan Sentra Wisata Kuliner (SWK) Wiyung, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, kini diibaratkan seperti buah simalakama bagi para pedagang yang masih bertahan. Di satu sisi mereka harus terus berjualan untuk menyambung hidup, namun di sisi lain kondisi usaha yang kian sepi membuat sebagian besar pedagang memilih gulung tikar.
SWK Wiyung yang berada di kawasan pusat pertokoan Wiyung, tepatnya di kompleks ruko yang dekat dengan Jalan Raya Wiyung, sebenarnya memiliki lokasi yang cukup strategis. Sentra kuliner ini didirikan pada tahun 2010 oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Koperasi dan UMKM sebagai upaya merelokasi para pedagang kaki lima yang sebelumnya berjualan di sepanjang Jalan Raya Wiyung hingga Jalan Raya Babatan.
Pada awal berdirinya, SWK Wiyung diisi sekitar 22 pedagang yang menjajakan beragam menu makanan. Mulai dari aneka gorengan, mie goreng dan masakan Jawa, nasi Padang, hingga makanan Chinese food. Bahkan sebelum masa pandemi COVID-19, tempat ini dikenal memiliki menu khas seperti soto iga, asem iga sapi, dan iga bakar dengan harga yang relatif terjangkau.
Salah satu pedagang yang cukup dikenal saat itu adalah almarhum Pak Edy, yang juga pernah menjabat sebagai ketua SWK Wiyung. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi usaha di sentra kuliner tersebut mengalami penurunan.
Kini, menjelang usia hampir 16 tahun, jumlah pedagang yang aktif berjualan di SWK Wiyung menyusut drastis. Dari 22 pedagang pada masa awal, saat ini hanya sekitar lima pedagang yang masih aktif, dari total 10 pedagang yang tercatat sebagai anggota.
Fenomena ini juga disebut terjadi di sejumlah SWK lainnya di Kota Surabaya. Dari sekitar 65 SWK yang ada di Surabaya, banyak pedagang yang mengalami kesulitan bertahan sehingga terpaksa menutup usahanya.
Salah seorang pedagang yang masih bertahan adalah Mila, perantau asal Nganjuk yang telah berjualan di SWK Wiyung hampir 15 tahun. Kepada wartawan Sorotnews, Mila mengaku tetap bertahan meski penghasilan yang diperoleh tidak selalu mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau untuk modal jualan besok biasanya masih bisa. Tapi kalau untuk kebutuhan hidup, banyak pedagang yang sebenarnya tekor,” ujar Mila.
Para pedagang berharap Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Koperasi dan UMKM dapat memberikan dukungan nyata, salah satunya berupa kredit lunak bagi pelaku UMKM, agar mereka bisa mempertahankan usaha di sentra kuliner tersebut.
Menurut mereka, selama ini bantuan yang diharapkan belum terealisasi secara nyata. Kondisi tersebut membuat para pedagang merasa berada dalam situasi sulit, seperti pepatah maju kena, mundur kena.
Hingga berita ini diturunkan, Sorotnews telah mencoba menghubungi pihak Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surabaya melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon untuk melakukan klarifikasi terkait kondisi SWK dan harapan para pedagang. Namun, belum ada tanggapan resmi yang diterima dari pihak terkait.**








