Aluminium Indonesia Berpotensi Jadi Penopang Industri Otomotif Global

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya. 

JAKARTA – Produksi aluminium nasional berpotensi menjadi salah satu tulang punggung industri otomotif dunia, seiring meningkatnya permintaan aluminium untuk kendaraan listrik (EV) dan alat berat di berbagai negara. Tren global menuju transisi energi dan elektrifikasi kendaraan mendorong permintaan logam ringan tersebut meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok aluminium dunia. Melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) yang berada di bawah kendali holding pertambangan MIND ID, Indonesia kini berpeluang menjadi pemasok utama bahan baku industri otomotif global, khususnya bagi Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

“Dengan mengontrol INALUM, Indonesia mampu mengendalikan pasokan bahan baku bagi industri otomotif global, terutama Jepang dan Korea Selatan yang mendominasi pasar kendaraan dunia,” ujar Ferdy dalam keterangannya di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Data menunjukkan, permintaan aluminium global meningkat pesat sejak 2017. Jepang, misalnya, memproyeksikan kebutuhan hingga 2 juta ton aluminium untuk sektor otomotif pada 2025. Sementara Tiongkok mencatat permintaan mencapai 17,3 juta ton, terutama untuk kebutuhan kendaraan listrik, konstruksi, dan infrastruktur energi baru terbarukan.

Kebutuhan besar tersebut menjadikan aluminium sebagai logam strategis di era transisi energi. Setiap kendaraan listrik rata-rata memerlukan 300–400 kilogram aluminium untuk struktur bodinya.

“Industri otomotif dunia yang sedang beralih ke kendaraan listrik sangat bergantung pada pasokan aluminium. Karena itu, posisi Indonesia semakin penting dalam rantai pasok global,” jelas Ferdy.

Saat ini INALUM memiliki kapasitas produksi lebih dari 300 ribu ton aluminium per tahun, menjadikannya produsen terbesar di Asia Tenggara. Untuk memperkuat pasokan bahan baku, MIND ID bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) membangun proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun.

Dari total produksi tersebut, sekitar 50 persen akan diserap oleh INALUM untuk kebutuhan peleburan aluminium, sedangkan sisanya akan diekspor ke pasar internasional.

“ANTAM memiliki cadangan bauksit besar yang bisa memasok kebutuhan smelter INALUM. Ini membentuk rantai industri yang kuat dari hulu ke hilir – mulai dari bauksit, alumina, hingga aluminium,” terang Ferdy.

Langkah hilirisasi yang dijalankan MIND ID merupakan bagian dari dukungan terhadap kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem logam nasional yang terintegrasi. Sebelumnya, Indonesia mengekspor hingga 40 juta ton bauksit mentah ke Tiongkok setiap tahun. Kini, kebijakan tersebut berubah menuju produksi alumina dan aluminium bernilai tambah tinggi untuk memperkuat kemandirian industri nasional.

“Dengan kebijakan ini, perusahaan otomotif global justru akan bergantung pada pasokan alumina dari Indonesia jika ingin menjaga keberlanjutan bahan bakunya,” tegas Ferdy.

Kebijakan hilirisasi dinilai menjadi tonggak penting menuju era industrialisasi baru Indonesia. Selain memperkuat struktur industri nasional, strategi ini diharapkan mampu menekan defisit perdagangan sektor manufaktur yang dalam periode 2017–2024 mencapai US$4,3 miliar akibat tingginya impor komponen otomotif dan alat berat.

“Indonesia terlalu lama nyaman mengekspor bahan mentah. Padahal nilai tambah yang besar justru ada di tahap pengolahan dan manufaktur,” tutup Ferdy.

Dengan dukungan infrastruktur industri yang semakin kuat, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain utama dalam rantai pasok aluminium global, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai pusat industri logam strategis di kawasan Asia Pasifik.**