Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAYAPURA, PAPUA – Terminal Peti Kemas (TPK) Jayapura terus menunjukkan geliat transformasi layanan pasca-merger PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) pada 2021. Transformasi ini mencakup digitalisasi, standarisasi operasional, serta penguatan sumber daya manusia (SDM) yang secara nyata meningkatkan efisiensi rantai pasok logistik di kawasan Papua dan Papua Pegunungan.
Kepala Terminal TPK Jayapura, Agus Setiawan Nazar, mengungkapkan bahwa sejak menjadi bagian dari PT Pelindo Terminal Petikemas pada 1 September 2022, TPK Jayapura mulai menjalani berbagai tahapan transformasi layanan, dimulai dari evaluasi kondisi awal atau gap analysis hingga penerapan sistem operasional berstandar internasional.
“Sebelum merger, hampir seluruh proses masih dilakukan secara manual. Namun, setelah transformasi ini dijalankan, perubahan yang terjadi sangat signifikan, baik dari sisi operasional maupun pelayanan,” ujar Agus saat ditemui Tim Jelajah Pelabuhan dan Logistik 2025, Senin (13/10/2025).
Transformasi di TPK Jayapura diawali dari aspek SDM. Seluruh petugas pelabuhan mendapatkan pelatihan seperti basic continental terminal operation (CTO), pelatihan teknis planning and control, serta on-the-job training hingga kunjungan ke terminal internasional. Pengembangan fungsi operasional juga dilakukan secara menyeluruh—mulai dari pengaturan tambatan kapal (berth allocation), perencanaan bongkar muat (ship & yard planning), hingga pelaporan berbasis control tower.
Tak hanya itu, penataan infrastruktur, tata letak fasilitas, dan pemutakhiran sistem informasi juga menjadi bagian penting dari proses transformasi. TPK Jayapura kini mengadopsi Terminal Operating System (TOS) Nusantara, sebuah sistem digital berstandar internasional yang memungkinkan perencanaan dan pengendalian operasional secara real-time dengan visualisasi 3D.
“Dengan TOS Nusantara, visibilitas dan kontrol atas seluruh aktivitas terminal menjadi lebih akurat dan efisien. Kami juga mulai menerapkan operasional 24/7 termasuk di hari Minggu,” tambah Agus.
Selain transformasi operasional, TPK Jayapura juga mengedepankan prinsip keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG). Area pelabuhan kini dilengkapi berbagai jenis tanaman untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih hijau dan sehat.
Transformasi yang dilakukan membawa dampak langsung terhadap efisiensi layanan. Jika sebelumnya kapal yang bersandar membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari untuk menyelesaikan aktivitas bongkar muat, kini waktu tersebut telah dipangkas menjadi hanya 1 hari.
Selain itu, proses administrasi receiving dan delivery yang sebelumnya dilakukan secara manual di loket, kini telah sepenuhnya digital. Pihak ekspedisi dan pemilik peti kemas tidak perlu lagi datang langsung ke pelabuhan, cukup melalui sistem daring yang terintegrasi.
TPK Jayapura juga telah menugaskan personel khusus untuk mengatur perencanaan bongkar muat, penumpukan kontainer, hingga memantau langsung operasional di lapangan melalui sistem pengendalian terpusat.
“Digitalisasi dan pengembangan SDM ini membuat aktivitas logistik jauh lebih cepat dan efisien. Distribusi barang kini lebih lancar,” kata Agus.
Namun demikian, Agus tidak menampik bahwa proses transformasi tidak lepas dari tantangan. Penyesuaian terhadap sistem digital menjadi pekerjaan rumah tersendiri, terutama bagi pelaku usaha yang sebelumnya terbiasa dengan sistem manual. Jaringan internet yang belum stabil di beberapa titik juga turut menjadi kendala teknis dalam implementasi digitalisasi.
Meski demikian, pelaku usaha menyambut positif berbagai perubahan ini. Kepala Cabang PT Tanto Jayapura, Wahyudi Lahinta, mengakui bahwa transformasi layanan di TPK Jayapura telah membantu meningkatkan produktivitas perusahaannya.
“Banyak sisi positifnya. Komunikasi lebih lancar, tidak perlu tatap muka, dokumen lebih akurat, dan proses bongkar muat jadi lebih cepat. Kerja kami jadi lebih efektif dan optimal,” ujar Wahyudi.
TPK Jayapura kini menjadi salah satu gerbang utama rantai pasok logistik di Tanah Papua. Terminal ini melayani distribusi ke 14 kabupaten/kota di wilayah Papua dan Papua Pegunungan. Komoditas yang masuk di antaranya adalah sembako, material konstruksi, kendaraan, dan semen. Sementara itu, komoditas ekspor meliputi ikan, kelapa sawit (CPO), kernel, kayu olahan, hingga kopi.
Per September 2025, throughput atau volume bongkar muat di TPK Jayapura tercatat mencapai 61.346 TEUs. Adapun target throughput sepanjang tahun 2025 ditetapkan sebesar 90.651 TEUs.
Transformasi yang sedang berjalan ini menjadi bagian dari langkah besar Pelindo dalam mewujudkan efisiensi logistik nasional, serta menjadikan pelabuhan-pelabuhan di wilayah timur Indonesia sejajar dengan pelabuhan modern lainnya di tanah air.**








