Mengawasi Aparatur Negara dan Informasi Publik

BI Tegal Ajak Pengelola Desa Wisata Eks Karesidenan Pekalongan Belajar ke Yogyakarta

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin. 

TEGAL, JATENG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal mengajak perwakilan tujuh pengelola desa wisata (Deswita) dari wilayah Eks Karesidenan Pekalongan melakukan studi banding ke tiga desa wisata unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tiga desa wisata yang menjadi tujuan pembelajaran adalah Desa Wisata Krebet, Desa Wisata Nglanggeran, dan Desa Wisata Wukirsari. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kelembagaan, mendorong sinergi potensi lokal, dan menumbuhkan ekosistem pariwisata yang berbasis masyarakat.

Perwakilan Pengelola Deswita Pandansari, Batang, Aminudin, mengatakan dirinya terinspirasi oleh Desa Krebet yang dikenal lewat kerajinan batik kayu dan ukiran. Menurutnya, keberhasilan desa tersebut tidak lepas dari inisiatif dan semangat masyarakatnya.

“Desa itu berdiri dari semangat warga, tanpa alokasi dana desa. Mereka menggabungkan seni budaya dan usaha kreatif menjadi paket wisata yang bisa dipesan secara online maupun manual,” ujar Aminudin.

Ia menambahkan, Desa Krebet berhasil meraih Juara I Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk kategori kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM).

Kunjungan juga dilakukan ke Desa Wisata Nglanggeran yang dibangun di atas tanah milik Sultan Yogyakarta. Desa ini dikembangkan oleh komunitas lokal yang mengelola potensi wisata seperti pertanian, embung, dan pengolahan kakao.

“Banyak kelompok tani dilibatkan. Bumdes aktif membangun infrastruktur serta memberikan pelatihan kepada pelaku usaha. Sistem bagi hasil diterapkan, termasuk pembagian 10 persen dari penjualan tiket wisata,” jelasnya.

Desa terakhir yang dikunjungi adalah Wukirsari, yang terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Selain dikenal sebagai kampung batik, Wukirsari juga menorehkan prestasi sebagai Juara 1 Desa Wisata Maju ADWI 2023 dan masuk dalam daftar The Best Tourism Village 2024 versi UNWTO.

Aminudin menyampaikan bahwa pengalaman ini menjadi motivasi bagi Deswita Pandansari untuk terus berbenah dan berinovasi.

“Ke depan kami akan fokus pada pengetatan SOP wisata demi keamanan bersama, penguatan sistem digital seperti penjualan paket wisata melalui e-commerce, serta pengembangan produk lokal seperti olahan pisang dan kuliner khas,” ucapnya.

Ia menambahkan, kolaborasi antarpihak sudah berjalan dengan baik. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pariwisata yang berkelanjutan.

Kepala Unit Data Statistik Kehumasan KPw BI Tegal, Agung Sukmonohadi, mengatakan bahwa pihaknya sengaja mengajak media dan perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam kegiatan ini agar mereka dapat menyerap langsung pengalaman dari desa wisata yang sudah terbukti sukses.

“Tujuan kami adalah untuk belajar dan melihat langsung proses pengelolaan kampung batik. Karena itu kami mengajak teman-teman media dan Pokdarwis agar bisa turut belajar, salah satunya di Kampung Batik Wukirsari, desa wisata yang diakui sebagai salah satu dari 55 desa wisata terbaik dunia versi UNWTO tahun 2024,” ujar Agung.

Bank Indonesia berharap, melalui studi banding ini, desa-desa wisata di wilayah Eks Karesidenan Pekalongan dapat terus berkembang dengan mengedepankan potensi lokal, kolaborasi komunitas, dan transformasi digital dalam pengelolaan pariwisata.**