Laporan wartawan sorotnews.co.id : Marselin SK.
MANGGARAI, NTT – Hasil audit internal yang dilakukan Yayasan Persekolahan Sukma Pusat (Yapersukma) mengungkap adanya indikasi kerugian keuangan (money lost) dalam pengelolaan dana pendidikan di sejumlah sekolah di bawah naungan yayasan tersebut. Ketua Yapersukma Pusat, RD Patrick Dharsam Guru, menyampaikan bahwa meskipun temuan tersebut belum dirinci secara terbuka, pihak yayasan menekankan pentingnya penyelesaian persoalan ini secara kekeluargaan, namun tetap dengan menegakkan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Pernyataan ini disampaikan RD Patrick saat ditemui media di Kantor Yapersukma Pusat. Hadir mendampingi dalam pertemuan tersebut salah satu pengurus yayasan, Petrus Malada. Tampak pula beberapa pihak dari lingkungan sekolah, termasuk Kepala Sekolah SDK Ruteng II, Gaudensia Apong, Bendahara Sekolah Ningsih, dan seorang guru bernama Ibu Uya.
“Memang ada temuan dalam audit. Namun sebelum kami menyampaikan ke publik, kami perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan Pembina Yayasan, termasuk apakah nominal kerugian bisa diekspos,” ujar RD Patrick.
Senada dengan RD Patrick, Petrus Malada menambahkan bahwa temuan tersebut berkaitan dengan kehilangan dana, meskipun ia belum bersedia membeberkan angkanya.
“Ada money lost, tapi untuk jumlahnya kami belum bisa sampaikan sekarang,” ujarnya singkat.
Lebih lanjut, RD Patrick menyoroti pola pengelolaan dana di sekolah yang dinilai belum sesuai dengan standar manajemen yayasan. Ia menyebutkan bahwa masih banyak kepala sekolah yang keliru dalam memposisikan dana Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), dengan mengelolanya seolah-olah seperti Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Dana BOS itu wajib dikelola oleh tim, bukan hanya kepala sekolah dan bendahara. Jika hanya dua orang yang mengelola dana, potensi penyalahgunaan pasti ada. Ini masalah serius,” tegasnya.
Yapersukma, menurut RD Patrick, sejak awal telah menetapkan sistem Manajemen Terpusat, di mana pengelolaan keuangan sekolah harus sejalan dengan kebijakan yayasan. Namun demikian, ia menilai ada sebagian kepala sekolah yang mengabaikan pedoman ini, seolah merasa independen hanya karena mereka diangkat oleh pemerintah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
“Mungkin karena mereka merasa diangkat pemerintah, lalu menganggap tidak perlu konsultasi dengan yayasan selaku pemilik sekolah. Ini adalah kekeliruan besar,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap citra dan kepercayaan yang diberikan Bupati Manggarai, Hery Nabit, kepada para guru PNS yang diperbantukan ke sekolah-sekolah swasta.
“Bupati menitipkan guru PNS ke sekolah swasta karena mereka dinilai punya integritas. Tapi kalau soal uang, kadang orang bisa gelap mata. Ini mencederai kepercayaan yang diberikan oleh Bupati,” ujar RD Patrick.
Meski audit mengindikasikan adanya kerugian, RD Patrick menegaskan bahwa penyelesaian masalah tetap akan mengedepankan pendekatan kekeluargaan.
“Kami tetap akan selesaikan ini dengan pendekatan kasih. Tapi bukan berarti kami menutup mata terhadap kesalahan. Semua harus dibenahi,” katanya.
Terkait kemungkinan dana BOS juga ikut terdampak, RD Patrick memilih tidak berkomentar banyak.
“Dana BOS itu urusan Dinas PPO dan kepala sekolah masing-masing,” ujarnya singkat.
Dalam konteks pengelolaan pendidikan dan keuangan sekolah, RD Patrick menekankan pentingnya kesadaran bahwa tanggung jawab pengelolaan dana pendidikan tidak hanya berdampak pada citra sekolah, tetapi juga masa depan anak-anak yang dididik di dalamnya.
Sementara itu, dalam pernyataan terpisah sebelumnya, salah satu pengurus yayasan yang juga mantan Kepala Dinas PPO Kabupaten Manggarai, Adi Empang, pernah menegaskan pentingnya integritas dalam dunia pendidikan.
“Ikuti juknis, kerja dengan jujur. Kalau kerja baik, tidur nyenyak, pensiun aman. Kerjalah pakai hati nurani. Jangan serakah, dan jangan sombong,” tegas Adi Empang.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Yapersukma belum merilis secara resmi hasil audit tersebut. Media ini akan terus mengikuti perkembangan dan membuka ruang klarifikasi bagi pihak-pihak terkait.**








