Kisah Eko Supardi, Anak Yatim Piatu di Tangerang yang Butuh Uluran Tangan dan Kasih Sayang Warga

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Suherman. 

TANGERANG, BANTEN – Hidup tanpa orang tua di usia yang masih sangat belia bukanlah pilihan. Inilah kenyataan pahit yang harus dijalani Eko Supardi, seorang anak yatim piatu berusia 12 tahun asal Kampung Waliwis Kulon, RT 003/RW 003, Desa Waliwis, Kecamatan Mekar Baru, Kabupaten Tangerang, Banten.

Meski kerap dianggap “nakal” oleh sebagian warga sekitar, kisah hidup Eko menyimpan kesedihan mendalam yang jarang diketahui banyak orang. Anak ini kehilangan kasih sayang orang tua sejak kecil dan kini tinggal bersama sang nenek, Ibu Ranti, seorang janda berusia lanjut yang penghasilannya tidak menentu.

Pada Sabtu malam (18/10/2025), Marnan Sarbini, aktivis kemanusiaan sekaligus Ketua Forum Peduli Masyarakat Indonesia (FPMI) DPW Banten, mengunjungi kediaman Eko. Dalam kunjungannya, Marnan menyerahkan bantuan sembako, makanan, serta perlengkapan mandi untuk membantu meringankan beban hidup sang anak.

“Menjadi yatim piatu bukanlah kesalahan Eko. Ia hanya butuh perhatian, bukan penilaian. Lingkungan yang peduli bisa mengubah masa depannya,” ujar Marnan dengan mata berkaca-kaca.

Ia juga mengajak warga sekitar untuk tidak memandang Eko hanya dari perilakunya saat ini, tetapi memahami latar belakang yang membentuknya.

Ibu Ranti, nenek Eko, mengaku kesulitan mencukupi kebutuhan cucunya. Dengan usia yang tak lagi muda dan tanpa penghasilan tetap, ia berharap ada dukungan nyata dari masyarakat dan pemerintah.

“Saya hanya bisa berusaha seadanya. Eko memang susah diatur, tapi dia anak baik. Mungkin karena kurang perhatian,” ungkapnya lirih.

Menurut Marnan, kasih sayang dan perhatian lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seorang anak, apalagi yang tumbuh dalam kekurangan dan kehilangan.

“Eko butuh figur, butuh sentuhan. Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin dia benar-benar akan kehilangan arah,” lanjutnya.

Marnan juga menekankan pentingnya gotong royong dalam membangun kepedulian sosial terhadap anak-anak yang hidup dalam keterbatasan.

“Kita semua punya tanggung jawab moral. Jangan biarkan Eko menjadi korban kedua kalinya hanya karena kurang kasih sayang. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung anak-anak seperti Eko agar tumbuh menjadi pribadi yang positif,” tegasnya.

Kisah Eko Supardi adalah satu dari sekian banyak potret anak-anak Indonesia yang hidup dalam garis kesulitan. Diperlukan sinergi antara masyarakat, tokoh lokal, dan pemerintah, agar tidak ada lagi anak yang merasa sendirian di tengah keramaian.

> “Semoga makin banyak hati yang tergerak membantu, bukan hanya Eko, tapi juga anak-anak lain yang nasibnya serupa. Dengan kepedulian, kita bisa menyelamatkan masa depan mereka,” pungkas Marnan Sarbini.**

Pos terkait