Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA – Eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia tengah menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, kebutuhan energi nasional terus meningkat. Namun, di sisi lain, investasi hulu migas dan jumlah sumur eksplorasi justru menurun.
Dalam situasi ini, riset-riset ilmiah menjadi titik tumpu mencari cara baru yang lebih efisien. Hal itu disampaikan Tri Muji Susantoro dalam orasi ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (25/11).
Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN ini menegaskan, migas masih akan menyuplai lebih dari separuh kebutuhan energi Indonesia pada 2050. Karena itu, eksplorasi migas tidak dapat dilakukan dengan cara-cara konvensional saja, terutama ketika target produksi nasional semakin ambisius dan wilayah prospeknya semakin kompleks.
Solusinya, menurut Tri, adalah menggabungkan teknologi penginderaan jauh dan pembelajaran mesin.
“Pengembangan hasil riset ini diharapkan membantu eksplorasi migas di Indonesia untuk mencapai target satu juta barel tahun 2030 dan keberlanjutan energi dan sumber daya mineral nasional,” kata Tri.
Penginderaan jauh yang merupakan teknologi memotret dan menganalisis permukaan bumi dari udara atau satelit bukan hal baru dalam dunia geologi. Namun, perkembangan perangkat satelit, sensor multispektral, radar, dan data multitemporal dalam beberapa dekade terakhir membuat teknologinya jauh lebih presisi.
Tri menjelaskan, jejak migas sering kali dapat terbaca dari perubahan-perubahan di permukaan bumi.
“Dengan memanfaatkan perubahan mineral tanah, perubahan kondisi tanaman, adanya rembesan migas, serta sesar, potensi migas dapat diidentifikasi dari permukaan,” ujarnya.
Dengan penginderaan jauh, sinyal-sinyal itu dapat dianalisis tanpa harus melakukan survei lapangan yang mahal dan berisiko. Teknologi ini memungkinkan pemetaan rona awal lingkungan, identifikasi area sensitif atau rawan konflik, penentuan jalur survei seismik, perencanaan pipa migas, hingga pemilihan rute paling efisien untuk logistik.
“Ini membantu industri migas menghindari area terlarang, mencegah potensi konflik, dan mempercepat proses eksplorasi,” kata Tri.
Perkembangan berikutnya adalah integrasi antara citra satelit dan algoritma pembelajaran mesin (machine learning). Teknologi ini melatih komputer untuk mengenali pola-pola permukaan yang berhubungan dengan keberadaan migas.
Tri mengembangkan metode ini sejak awal 2000-an. Menggunakan kombinasi citra satelit, data geologi, dan variabel lingkungan, model pembelajaran mesin dapat menilai area mana yang layak menjadi prioritas eksplorasi.
“Di Sumatra Tengah dan Pulau Jawa, akurasi model mencapai 90 persen,” ujarnya.
Hasil tersebut bukan sekadar angka. Di lapangan, pendekatan ini telah memetakan potensi migas dengan lebih cepat dan akurat. Di Indramayu, misalnya, metode anomali permukaan menemukan 84 potensi area migas, 37 di antaranya telah terbukti sebagai lapangan migas aktif.
Cara kerja metode anomali permukaan ini menarik. Di Amerika Serikat, Tri menjelaskan, 80 persen sumur eksplorasi dengan anomali rembesan migas terbukti komersial. Sementara sumur tanpa rembesan hanya 14 persen yang berhasil. Perbandingan ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara anomali permukaan dan cadangan migas bawah tanah.
Kontribusi Tri selama dua dekade tidak berhenti pada pengembangan metodologi. Ia terlibat dalam berbagai kajian penting, mulai dari pemetaan awal rona lingkungan, perencanaan 3D seismik, identifikasi rintangan geografis, hingga pemodelan prospek migas.
Tri yang telah menghasilkan 82 karya tulis ilmiah (KTI) ini juga aktif membagikan hasil riset melalui seminar, kuliah umum, dan publikasi ilmiah. Penghargaan sebagai periset berkinerja tinggi serta tujuh Kekayaan Intelektual (KI), berupa 1 paten nasional terdaftar dan 6 hak cipta, menjadi bukti pengakuan atas kontribusinya.
Bagi industri, hasil kerjanya sudah dimanfaatkan dalam perencanaan eksplorasi, analisis risiko, dan optimasi biaya.
“Eksplorasi migas adalah kegiatan berisiko tinggi, modal besar, dan menggunakan teknologi tinggi. Karena itu, semua keputusan harus berbasis data,” ujar Tri.
Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen, tetapi baru 20 yang datanya lengkap. Sementara itu, wilayah prospek kini berkembang ke area laut dalam, daerah terpencil, maupun target reservoir yang semakin dalam. Situasi ini membuat biaya eksplorasi kian meningkat dan risikonya semakin besar.
Oleh karena itu, Tri menawarkan sejumlah rekomendasi strategis. Pertama, perlunya memperkuat penggunaan penginderaan jauh pada tahap awal eksplorasi, terutama untuk wilayah perbatasan (frontier).
Kedua, pentingnya mengintegrasikan data multisensor dan machine learning untuk meningkatkan peluang keberhasilan. Ketiga, mengoptimalkan kajian rona awal lingkungan agar kegiatan eksplorasi lebih bertanggung jawab.
Keempat, memanfaatkan penginderaan jauh untuk perencanaan jalur seismik dan pipa sehingga biaya dan risiko bisa ditekan. Dan kelima, meningkatkan kapasitas nasional dalam pengolahan data geospasial beresolusi tinggi. Menurutnya, seluruh pendekatan ini akan membuat kegiatan eksplorasi migas lebih efisien, presisi, dan aman.
Selain mendukung eksplorasi migas, Tri menyoroti peran penting penginderaan jauh dalam menghadapi agenda global menuju karbon netral. Teknologi ini dapat membantu memetakan formasi geologi yang cocok untuk carbon capture and storage (CCS), sebagai salah satu strategi penyimpanan karbon yang aman dan terukur.
“Sains, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor adalah kunci menjaga keberlanjutan pembangunan energi Indonesia,” tandas Tri.**








