Pompa Air Mati Sejak Sebelum Lebaran, Warga Desa Pesanggrahan Keluhkan Banjir Tak Kunjung Surut

Foto: Ketua RT menunjukkan rumah pompa yang mati.

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Aziz. 

PEKALONGAN, JATENG – Warga Desa Pesanggrahan, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, mengeluhkan tidak berfungsinya mesin pompa penyedot air banjir yang hingga kini masih mati. Akibatnya, genangan air di sejumlah wilayah permukiman tak kunjung surut meski sudah berlangsung cukup lama.

Beberapa gang di wilayah RT setempat dilaporkan masih tergenang air, bahkan sejak sebelum Hari Raya Idulfitri. Kondisi ini menghambat aktivitas warga sehari-hari.

Ketua RT 05, Saipul Bahri, saat ditemui pada Sabtu (4/4/2026), mengungkapkan bahwa mesin pompa sudah tidak berfungsi sejak sebelum Lebaran. Ia menjelaskan, saat banjir besar sebelumnya, pompa masih sempat beroperasi dan membantu mempercepat surutnya air.

“Waktu banjir besar dulu, air sempat surut saat puasa. Sekitar satu minggu sudah bisa dilewati motor, karena mesin pompa masih menyala. Tapi setelah itu berhenti, sampai sekarang tidak pernah menyala lagi. Bahkan saat hujan kemarin juga tidak difungsikan,” ujarnya.

Menurut Saipul, terdapat informasi bahwa gangguan terjadi pada aliran listrik. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang jelas.

“Katanya listrik mati dan pihak PLN akan datang, tapi sampai sekarang tidak ada yang datang,” tambahnya.

Ia juga menyoroti minimnya kesiapsiagaan petugas yang bertanggung jawab menjaga dan mengoperasikan pompa.

“Petugasnya kalau tidak disuruh tidak datang. Seharusnya siaga, apalagi saat musim hujan,” keluhnya.

Dampak dari tidak berfungsinya pompa tersebut cukup signifikan. Sedikitnya empat RT masih terendam banjir, dengan masing-masing RT dihuni sekitar 60 kepala keluarga. Air yang menggenang disebut sudah berlangsung sejak sebelum bulan Syawal dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut.

Warga mengaku telah beberapa kali melaporkan kondisi tersebut, namun belum ada tindakan nyata. Mereka juga mempertanyakan kondisi tiga unit mesin pompa yang tersedia, terdiri dari satu mesin listrik dan dua mesin berbahan bakar solar, yang semuanya dalam keadaan tidak berfungsi.

“Kalau memang listrik mati, mesin diesel seharusnya bisa digunakan. Tapi ini semuanya mati,” kata Saipul.

Selain itu, warga juga menyoroti kinerja petugas yang dinilai tidak maksimal, namun justru mengajukan kenaikan gaji. Menurut informasi yang beredar, honor petugas berasal dari PSDA yang dibayarkan selama enam bulan, sementara sisanya diharapkan dari desa.

“Kerjanya tidak maksimal, tapi minta naik gaji. Itu jelas tidak pantas,” tegasnya.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memperbaiki mesin pompa dan memastikan petugas bekerja secara optimal. Mereka juga meminta agar petugas selalu siaga, sehingga ketika hujan deras turun, pompa bisa langsung dioperasikan untuk mencegah banjir semakin parah.

“Harapan kami sederhana, mesin pompa bisa berfungsi normal kembali dan petugas selalu standby. Jadi kalau hujan besar, air bisa cepat surut,” pungkas Saipul.**

Pos terkait