Mengawasi Aparatur Negara dan Informasi Publik

PT Dirgantara Indonesia Tawarkan Roket 70 mm di DSA 2026, Perkuat Ekspansi Pasar Pertahanan Asia Tenggara

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya. 

KUALA LUMPUR, MALAYSIA – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kembali menunjukkan eksistensinya di pasar industri pertahanan kawasan Asia Tenggara dengan berpartisipasi dalam ajang Defense Services Asia (DSA) 2026. Pameran yang digelar di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur ini menjadi momentum strategis bagi PTDI untuk menawarkan sistem roket 70 mm sebagai solusi persenjataan andalan bagi negara-negara regional, termasuk Malaysia.

Keikutsertaan PTDI dalam pameran tersebut tidak terlepas dari pengalaman panjang perusahaan dalam memproduksi roket kaliber 70 mm. Kompetensi tersebut berawal dari lisensi teknologi yang diperoleh dari Forges de Zeebrugge (FZ), Belgia, pada era 1980-an. Melalui kerja sama itu, PTDI—yang saat itu masih bernama IPTN—berhasil menyerap teknologi produksi roket jenis Folding Fin Aerial Rocket (FFAR), yang hingga kini menjadi standar persenjataan udara di berbagai negara.

Selama lebih dari empat dekade, PTDI secara konsisten memproduksi roket FFAR 2,75 inci (70 mm) varian Mk40 dan Mk4. Tidak hanya sebatas perakitan, PTDI juga telah mencapai tingkat kemandirian produksi yang tinggi dengan penguasaan teknologi pada berbagai komponen utama, mulai dari motor roket, hulu ledak, hingga sirip stabilisator (fin dan nozzle). Hal ini menjadikan produk roket tersebut memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang signifikan.

Pada DSA 2026, PTDI melihat peluang besar untuk mengintegrasikan sistem roket 70 mm ke dalam kebutuhan pertahanan Malaysia. Hal ini didukung oleh fakta bahwa Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) merupakan salah satu operator setia pesawat CN-235 seri 220 produksi PTDI di Bandung. Integrasi sistem persenjataan ini dinilai sebagai langkah ekspansi yang logis sekaligus strategis.

Selain dikenal sebagai platform andal untuk misi angkut dan patroli maritim (MSA), CN-235 juga berpotensi diperkuat dengan sistem persenjataan tambahan. Di sisi lain, roket 70 mm produksi PTDI dirancang fleksibel dan dapat digunakan pada berbagai platform, termasuk helikopter dan pesawat serang ringan.

Kehadiran PTDI di bawah naungan holding industri pertahanan nasional, DEFEND ID, menegaskan perannya sebagai penyedia solusi pertahanan terpadu. Tidak hanya menawarkan platform pesawat, PTDI juga menyediakan layanan purna jual seperti maintenance, repair, and overhaul (MRO) serta modifikasi, termasuk dukungan penyediaan amunisi roket 70 mm guna menunjang kemandirian operasional pengguna dalam jangka panjang.

Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal, menyatakan bahwa partisipasi perusahaan dalam DSA 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk unggulan yang telah teruji.

“Partisipasi kami di DSA 2026 adalah momentum untuk menawarkan refleksi produk yang sudah teruji selama puluhan tahun. Roket 70 mm kami, yang bermula dari lisensi teknologi Belgia dan kini telah kami kembangkan secara mandiri, merupakan solusi yang biaya-efektif bagi kebutuhan pertahanan di kawasan,” ujarnya.

Dengan pengalaman panjang, penguasaan teknologi, serta dukungan ekosistem industri pertahanan nasional, PTDI optimistis mampu memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain strategis di industri dirgantara dan pertahanan global.**