Bupati Probolinggo Apresiasi Jembatan Swadaya Warga, Janji Bangun Permanen

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri Asmoro.

PROBOLINGGO, JATIM – Bupati Probolinggo, dr. H. Mohammad Haris, M.Ked.Klin., Sp.PD., atau yang akrab disapa Gus Haris, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif dan semangat gotong royong warga dalam membangun jembatan darurat penghubung antara Desa Brabe, Kecamatan Maron, dan Desa Condong, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.

Jembatan tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat menyusul kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada Januari 2025 lalu. Akses penghubung dua desa itu sebelumnya terputus, menghambat mobilitas warga dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Gus Haris meninjau langsung lokasi jembatan swadaya yang telah berdiri di atas Sungai Pekalen. Kehadirannya disambut antusias oleh warga, terutama mereka yang sejak awal terlibat dalam proses pembangunan, Senin (16/6/2025).

“Kami sangat bangga dan mengapresiasi semangat kebersamaan masyarakat dalam membangun jembatan ini secara mandiri. Ini adalah bukti nyata bahwa partisipasi warga sangat penting dalam pembangunan daerah,” ungkap Gus Haris di hadapan warga.

Dalam kesempatan itu, Bupati turut didampingi oleh sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Gus Haris menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam. Pihaknya telah mengusulkan pembangunan jembatan permanen kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan saat ini sedang dalam proses pengajuan.

“Kami sudah ajukan ke Pemprov Jatim agar jembatan ini bisa dibangun secara permanen. Harapan kami, proses persetujuan dan alokasi anggaran bisa segera terealisasi,” jelasnya.

Menurut Gus Haris, keterbatasan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) menjadi kendala dalam membangun seluruh infrastruktur pascabencana secara serentak. Meski begitu, pemerintah tetap berkomitmen melakukan pemulihan di berbagai titik terdampak.

“Pemerintah daerah telah berupaya maksimal dalam menangani kerusakan infrastruktur akibat bencana. Sejumlah jembatan lain sudah selesai dibangun. Namun, karena keterbatasan BTT, beberapa titik memang belum tersentuh,” tambahnya.

Jembatan penghubung Brabe – Condong memiliki panjang sekitar 40 meter dengan lebar 2 meter. Sejak ambruk diterjang banjir bandang, warga dari empat rukun tetangga (RT) di Desa Brabe, yakni RT 10, RT 17, RT 18, dan RT 20, terpaksa menggunakan rakit sebagai alat transportasi darurat untuk menyeberang sungai.

Hal ini tentu sangat berisiko, terutama bagi anak-anak sekolah dan lansia. Baru pada Mei 2025, warga secara sukarela mulai membangun jembatan darurat berbahan bambu dan kayu, setelah mendapatkan izin resmi dari Bupati.

Kini, jembatan swadaya tersebut menjadi bukti nyata semangat gotong royong warga dalam menghadapi keterbatasan dan tantangan pascabencana.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo berharap, dengan pembangunan jembatan permanen nantinya, konektivitas dan aktivitas sosial ekonomi antarwilayah dapat kembali pulih dan berjalan lebih optimal.**

Pos terkait