Cegah Kenakalan Remaja, Pemkot Surabaya Terapkan Program Kampung Pancasila di Setiap RW

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri Asmoro. 

SURABAYA, JATIM – Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat ketahanan sosial masyarakat dengan meluncurkan program Kampung Pancasila di setiap Rukun Warga (RW). Program ini dirancang sebagai upaya strategis untuk menangkal berbagai persoalan sosial yang kian kompleks, seperti kenakalan remaja, pengangguran, serta kemerosotan moral dan nilai di tengah masyarakat.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa Kampung Pancasila bukan sekadar simbol, melainkan gerakan nyata untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari warga. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan daring bersama seluruh kepala perangkat daerah, camat, lurah, hingga ketua RT dan RW se-Kota Surabaya, Jumat (4/7).

“Saya ingin Surabaya menjadi kota teladan, seperti kota-kota maju di luar negeri yang menerapkan nilai-nilai luhur tidak hanya secara retoris, tapi juga melalui tindakan nyata. Ini sejalan dengan ajaran agama, yakni tolong-menolong dalam kebaikan,” ujar Eri Cahyadi.

Wali Kota Eri menyatakan keprihatinannya atas tingginya angka kenakalan remaja dan permasalahan moral di kalangan generasi muda. Menurutnya, sebagian besar permasalahan tersebut berakar dari kondisi keluarga yang kurang harmonis atau minim perhatian terhadap perkembangan anak.

“Anak-anak tumbuh dari apa yang mereka lihat dan rasakan di rumah. Jika orang tuanya tidak rukun dan tidak memberi perhatian cukup, maka anak bisa kehilangan arah,” jelasnya.

Untuk itu, Pemkot Surabaya membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kampung Pancasila di tingkat RW dan RT. Satgas ini akan bertugas melakukan pembinaan kepada generasi muda agar terhindar dari aktivitas negatif, seperti pergaulan bebas, geng motor, hingga kebiasaan keluyuran malam tanpa tujuan. Mereka juga akan bersinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal dalam menjaga ketertiban sosial di lingkungan masing-masing.

Lebih dari sekadar pembinaan moral, Satgas Kampung Pancasila juga diarahkan untuk membangun budaya positif di tengah masyarakat. Salah satu upaya yang digencarkan adalah edukasi dan penerapan kebiasaan memilah sampah dari rumah, yang bertujuan untuk menekan biaya pengelolaan sampah kota. Dana penghematan tersebut nantinya bisa dialihkan untuk program pendidikan gratis atau bantuan modal usaha bagi warga.

Selain itu, Satgas juga akan menggali potensi ekonomi lokal di masing-masing kampung, guna menciptakan program produktif dan peluang kerja, khususnya bagi para pemuda yang baru lulus sekolah. Salah satu skenario yang ditawarkan adalah memfasilitasi kampung-kampung agar dapat menyuplai kebutuhan logistik hotel, restoran, atau pabrik di sekitar wilayah mereka.

“Kita ingin kampung tidak hanya sebagai tempat tinggal, tapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi warga. Ini adalah bentuk nyata dari pemerataan pembangunan,” kata Eri.

Aspek lain yang menjadi perhatian dalam program ini adalah pengawasan terhadap rumah kos, guna memastikan lingkungan tempat tinggal tidak menjadi sumber pengaruh negatif bagi remaja. Satgas akan dilibatkan dalam memantau dan menjaga keamanan serta ketertiban rumah kos, agar tetap kondusif bagi perkembangan generasi muda.

Implementasi Kampung Pancasila akan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari Kader Surabaya Hebat, Bunda PAUD, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), komunitas warga, hingga perguruan tinggi. Sinergi lintas sektor ini dinilai penting untuk mewujudkan kampung yang tangguh secara sosial dan ekonomi.

Sebagai Ketua Dewan Pengurus APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia), Eri Cahyadi juga menyerukan pentingnya peran aktif warga dalam membangun kota.

“Membangun kota tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Kita semua punya peran. Kesejahteraan kota ini hadir dari ridho Tuhan, dan ridho itu muncul dari perbuatan baik antar sesama. Rezeki yang kita miliki bukan semata milik pribadi, tapi titipan yang juga menjadi hak orang lain,” pungkasnya.**

Pos terkait