Laporan wartawan sorotnews.co.id : Marselin SK.
MANGGARAI, NTT – Hatinya mudah tergerak apabila mendengar jeritan pilu sesama saudara yang berkekurangan. Jiwanya meronta apabila ia mendengar ada saudara-saudaranya yang membutuhkan sesuatu namun itu tak dapat dipenuhi.
Itulah sosok Stefanus Tarsi Amat yang telah sering membantu memenuhi kebutuhan saudaranya baik secara pribadi maupun untuk kepentingan umum ditahah kelahiranya Manggarai, Flores, NTT.
Walaupun saat ini dia berada jauh ditanah Papua, namun hati dan jiwanya ada untuk saudara-saudaranya ditanah Manggarai. “Dia telah berkali-kali memberi namun tidak sombong apalagi merendahkan orang lain”. Ketulusan hati seorang”Tarsi” sudah dirasakan banyak orang.
Jurnalis mudah ini terkenal kritis dan pekerja keras, hal ini telah terbukti dengan dedikasi tanpa batas yang telah ditunjukkanya ketika berkarya ditanah Papua.
Saat ini beliau menjadi Jurnalis handal yang dipercayakan untuk mewartakan pesona tanah Papua ke seantero Republik yang kita banggakan ini.
Dengan berbagai kesibukanya yang padat dia tetap ingat akan tanah kelahiranya “Manggarai tercinta”. Baginya penghormatan tarhadap tanah pusakanya adalah berkat serta penopang untuknya terus melangkah.
Cerita tentang Tarsi tak akan pernah habis. Walaupun usianya masih mudah namun jiwa kepedulianya sudah matang. Begitulah kesan Marsel Abon, Warga Kampung Cenop, Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, kepada media ini pada Jumat 11 Juli 2025.
“Adik kami Tarsi ini orangnya baik, selama ini sudah banyak memberi bantuan seperti pembangunan gereja diberapa tempat, bantuan Fasilitas Gereja, bantuan sing untuk warga yang rumahnya terkena bencana, bantuan untuk rumah adat dan acara adat, bantuan untuk kegiatan olahraga, dan masih banyak lagi jenis bantuan yang ia berikan di tempat yang berbeda-beda”.
Namun anaknya baik, dia tidak sombong, dia tidak suka merendahkan orang lain, dia tidak iri kalau ditempat yang sama ada lagi orang yang menyumbang. Karena bagi Tarsi semua kita punyak yang sama untuk berbuat baik.
Saya sering menyaksikan bagaimana dia memberi. Bagi kami adik Tarsi menjadi tokoh panutan yang kami andalkan kedepan untuk menjadi “Orang Tua”.
Kami beberapa tokoh masyarakat dan tokoh adat yang ada di Kecamatan Lamba Leda Utara dan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur sudah sepakat untuk kedepan kami mendong adik kami ini menjadi penyalur berkat bagi sesama.
Apakah ini salah, tentu tidak karena bukan adik Tarsi yang menginginkan hal itu, namun kami yang meminta dia supaya lebih banyak berbuat baik untuk tanah Manggarai dan NTT ini.
Tentu dalam perjuangan kami yang panjang ini, akan banyak muncul “Pembenci”, bagi kami itu bukan masalah, biarkan otak mereka tetap kerdil dan rendah. Kami abaikan mereka karena mereka itu tetap akan menjadi duri dalam hal berbuat baik, tutur Marsel.**








