Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri.
MOJOKERTO, JATIM — Penurunan daya beli masyarakat kembali menjadi keluhan utama para pedagang pasar dan pemilik toko di Kota Mojokerto sepanjang tahun 2025. Kondisi tersebut menyebabkan omzet usaha merosot tajam hingga membuat banyak pelaku usaha kecil menjerit karena situasi pasar yang terus memburuk.
Turunnya aktivitas ekonomi berdampak langsung pada tingkat belanja masyarakat. Para pedagang di pasar tradisional mengaku kesulitan mempertahankan omzet, karena jumlah pembeli semakin sedikit dari hari ke hari.
Salah satu pedagang Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto, Hermanto, mengatakan bahwa kondisi penjualan mengalami penurunan signifikan selama beberapa bulan terakhir.
“Daya beli menurun, sementara harga-harga barang naik. Tahun ini kondisi jauh lebih parah dibanding tahun 2024,” keluh Hermanto.
Keluhan serupa juga disampaikan Suprihatin, pemilik toko di kawasan Prapanca. Ia mengaku penjualan tokonya anjlok sangat drastis.
“Sekarang penjualan terjun bebas, turun hampir delapan puluh persen. Dulu masih lumayan bagus, sekarang benar-benar anjlok,” ujarnya.
Para pedagang menilai turunnya omzet dipicu oleh tingginya harga kebutuhan pokok yang tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Hal ini membuat konsumen lebih selektif dalam berbelanja dan memilih hanya membeli kebutuhan yang benar-benar mendesak.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, para pemilik toko dan pedagang pasar berharap kondisi segera membaik. Mereka berharap adanya pemulihan daya beli masyarakat agar usaha kecil tetap bisa bertahan.
Selain itu, sejumlah pedagang menilai pemerintah perlu menghadirkan solusi konkret untuk membantu meringankan beban mereka. Mulai dari upaya stabilisasi harga kebutuhan pokok hingga kebijakan yang dapat menekan biaya operasional para pelaku usaha.
Mereka berharap intervensi pemerintah dapat menggerakkan kembali roda perekonomian serta memulihkan intensitas perdagangan di pasar tradisional maupun toko-toko kecil di Kota Mojokerto.**







