Dialektika UNW Mataram: Hukum Sudah Benar, Tapi Penegak Hukumnya Belum Benar

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Tim. 

MATARAM, NTB – Dalam upaya menumbuhkan kesadaran kritis di kalangan mahasiswa terhadap dinamika penegakan hukum di Indonesia, Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram menggelar kegiatan Dialektika Mahasiswa bertajuk “Hukum Sudah Benar, Tapi Penegak Hukum Tidak Benar”.

Acara berlangsung di Kedai Kampus, Jalan Majapahit, Kota Mataram, pada Sabtu (1/11/2025), dan dihadiri puluhan mahasiswa lintas fakultas yang antusias mengikuti jalannya diskusi.

Kegiatan yang mengusung semangat intelektual dan kepedulian terhadap keadilan ini dipimpin oleh Endi Tarwadi selaku Ketua Panitia, dengan Abdul Azis Faradhy dan Ade Maolana Deng sebagai fasilitator. Diskusi menghadirkan AN Amta, seorang pemikir muda yang dikenal kritis dan berani dalam mengulas realitas penegakan hukum di Indonesia.

Dalam pemaparannya, AN Amta menyoroti perbedaan mencolok antara idealitas hukum dalam teks undang-undang dan praktik penegakannya di lapangan. Menurutnya, secara konseptual sistem hukum Indonesia telah dibangun di atas landasan yang adil dan rasional, namun kerap kali terdistorsi oleh perilaku aparat yang tidak berintegritas.

“Hukum di negeri ini tidak salah, tapi cara menegakkannya sering keliru. Penegak hukum terkadang lebih tunduk pada kepentingan kekuasaan daripada pada keadilan itu sendiri,” ujar Amta, dalam orasinya yang disambut tepuk tangan peserta.

Ia menegaskan bahwa akar persoalan hukum di Indonesia bukan pada aturan yang lemah, melainkan pada moralitas penegak hukum yang belum sepenuhnya mencerminkan nilai keadilan dan tanggung jawab publik. Fenomena penyalahgunaan wewenang dan krisis integritas di kalangan aparat, kata Amta, menjadi penyebab utama menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum.

Sementara itu, fasilitator Abdul Azis Faradhy menegaskan bahwa mahasiswa hukum tidak hanya dituntut memahami teks undang-undang, tetapi juga harus memiliki kepekaan moral dan sosial terhadap realitas ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Hukum yang benar tanpa penegak yang jujur ibarat pedang tajam di tangan yang salah. Mahasiswa harus menjadi pengingat dan pengawal nurani hukum bangsa ini,” tegas Abdul Azis.

Fasilitator lainnya, Ade Maolana Deng, menambahkan bahwa kegiatan seperti dialektika mahasiswa merupakan bagian penting dari proses pendidikan kritis di kampus.

“Kritik yang lahir dari ruang akademik seperti ini adalah langkah awal memperbaiki sistem hukum dari dalam. Mahasiswa harus berani berpikir kritis, bertindak etis, dan berpihak pada kebenaran,” ujarnya.

Ketua Panitia, Endi Tarwadi, menyampaikan apresiasi terhadap seluruh peserta dan narasumber yang terlibat. Ia menegaskan bahwa Dialektika UNW Mataram tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga merupakan gerakan moral untuk membangun karakter intelektual yang berintegritas.

“Kami ingin membangun kesadaran bahwa hukum yang benar akan kehilangan makna jika penegaknya tidak berjiwa benar. Dialektika ini adalah upaya menanamkan nilai kejujuran dan keberanian pada generasi muda hukum UNW Mataram,” kata Endi.

Acara yang berlangsung hingga sore hari itu diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, foto bersama, dan refleksi penutup. Diskusi yang berlangsung hangat dan tajam ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, yang berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai ruang pembelajaran kritis dan independen bagi mahasiswa UNW Mataram.**

Pos terkait