Laporan wartawan sorotnews.co.id : Muktar.
JAKARTA – Merespons dinamika situasi nasional yang memanas dalam sepekan terakhir, Forum RT/RW se-Jakarta Pusat bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama menggelar pertemuan koordinasi darurat guna memperkuat stabilitas keamanan serta menjaga kerukunan di lingkungan masyarakat.
Pertemuan tersebut digelar pada akhir Agustus 2025, diprakarsai oleh sejumlah tokoh penting, salah satunya Mourits Kussoy akrab disapa Bang Morris yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Forum RT/RW se-Jakarta Pusat sekaligus Ketua RW 03 Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir. Ia juga dikenal sebagai Kepala Badan Koordinator Forum Kader Bela Negara DPW DKI Jakarta, di bawah naungan Kementerian Pertahanan RI.
Pertemuan yang berlangsung penuh keprihatinan itu fokus pada langkah-langkah antisipatif terhadap potensi gangguan keamanan, termasuk kemungkinan ekses negatif dari demonstrasi yang terjadi di wilayah DKI Jakarta, khususnya Jakarta Pusat yang kerap menjadi pusat konsentrasi massa.
“Kami menggalang kekuatan masyarakat dari tingkat paling bawah untuk menjaga keamanan lingkungan. Jangan sampai ada pihak yang menunggangi aksi penyampaian pendapat menjadi tindakan anarkis. Ini kampung kita, tanggung jawab kita,” ujar Bang Morris dalam pembukaan forum.
Dalam forum tersebut, hadir pula sejumlah tokoh strategis seperti H. Agus, Ketua RW 012 Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang yang juga dikenal sebagai tokoh Betawi Tanah Abang, serta Rahardian (Olan), Ketua RW 010 Kampung Bali, Tanah Abang. Kehadiran mereka memperkuat komitmen kolektif masyarakat untuk menjaga ketertiban dan menolak segala bentuk provokasi yang mengarah pada perpecahan.
Pertemuan menghasilkan sejumlah rumusan penting, salah satunya menekankan pentingnya komunikasi aktif dan sinergis antara warga, pengurus lingkungan, dan aparat keamanan. Forum RT/RW mendorong penyampaian aspirasi masyarakat tetap dilakukan secara tertib, damai, dan sesuai koridor hukum.
“Tolak segala bentuk anarkisme, jaga fasilitas umum, dan pelihara keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Ini harus menjadi prinsip bersama hingga ke tingkat RT,” tegas Morris yang juga menjabat Pembina Forum Pemuda Betawi.
Langkah konkret yang disepakati meliputi : Penguatan ronda malam dan posko keamanan lingkungan; Pemantauan aktif terhadap pergerakan massa yang berpotensi memicu kericuhan; Sosialisasi nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila; Mendorong warga untuk melaporkan potensi gangguan ke aparat berwenang secara cepat dan akurat.
Para tokoh yang hadir sepakat bahwa pondasi keamanan nasional berawal dari soliditas dan kewaspadaan masyarakat di lingkungan terkecil, yakni di tingkat RT dan RW. Oleh sebab itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga perdamaian dan mempererat silaturahmi antarwarga, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan.
“Indonesia adalah negara besar yang dibangun dari keberagaman. Kita punya tanggung jawab moral untuk menjaga itu, mulai dari rumah sendiri, dari lingkungan tempat tinggal kita,” tutup Morris.
Langkah proaktif ini diapresiasi oleh banyak pihak sebagai upaya nyata masyarakat sipil dalam merawat demokrasi sekaligus menegaskan bahwa keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama.**








