Gagal Dua Kali dan Sarat Polemik, Pemilihan Ketua HIPMA SBT Papua Barat Daya Terancam Batal

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Asep Suebu. 

SORONG, PBD – Proses pemilihan Ketua Himpunan Pemuda Mahasiswa Seram Bagian Timur (HIPMA SBT) Papua Barat Daya di Kota Sorong kembali menuai polemik serius. Setelah dua kali pelaksanaan pemilihan gagal menghasilkan keputusan dan diwarnai kericuhan, agenda pemilihan tersebut kini dinilai terancam batal.

Kegagalan yang berulang ini dipicu oleh sejumlah persoalan, mulai dari dugaan ketidakprofesionalan panitia hingga munculnya indikasi kecurangan dalam tahapan pemilihan. Salah satu insiden yang menjadi sorotan terjadi saat forum meminta panitia membuka kotak suara untuk keperluan simulasi pencoblosan.

Said Alis, saksi dari calon ketua nomor urut 1, mengungkapkan adanya kejanggalan saat kotak suara dibuka.

“Ketika kotak suara dibuka, awalnya terlihat kosong. Namun saat hendak ditutup kembali, tiba-tiba satu surat suara jatuh keluar. Setelah diperiksa, ternyata masih terdapat banyak surat suara di dalam kotak,” ungkap Said.

Ia menegaskan bahwa pada saat kejadian tersebut, proses pencoblosan resmi belum dimulai dan masih berada pada tahap simulasi. Bahkan, menurutnya, beberapa surat suara diduga sudah dalam kondisi tercoblos.

“Saya tidak mengetahui siapa yang memasukkan surat suara itu. Namun kejadian ini disaksikan oleh banyak peserta forum,” katanya.

Situasi semakin memanas ketika panitia dinilai langsung menggabungkan surat suara yang ditemukan ke dalam proses pemilihan tanpa melalui tahapan verifikasi. Tindakan tersebut memicu protes dari sejumlah peserta forum yang menilai panitia tidak menjalankan prinsip transparansi dan keadilan.

“Seharusnya dilakukan verifikasi terlebih dahulu. Namun panitia langsung menyatakan surat suara tersebut belum dicoblos dan kemudian digabungkan,” tambah Said.

Polemik ini menambah panjang daftar persoalan dalam pemilihan Ketua HIPMA SBT, yang sebelumnya juga gagal dilaksanakan akibat konflik internal. Kondisi tersebut menuai kritik keras dari berbagai pihak, termasuk tokoh pemuda Seram Bagian Timur.

Tokoh pemuda SBT, Mahmud Rumatiga, menyatakan keprihatinan mendalam atas konflik yang terus berlarut-larut dalam tubuh organisasi tersebut. Ia menilai kegagalan pemilihan yang berulang berpotensi merusak persatuan pemuda dan mahasiswa asal Seram Bagian Timur di Sorong Raya.

“Ini sudah dua kali pemilihan gagal dan selalu berujung ricuh. Jika terus dibiarkan, konflik ini bisa meluas dan memecah persaudaraan anak-anak SBT di Sorong Raya,” tegas Mahmud.

Mahmud mendesak Ketua Kerukunan Keluarga Seram Bagian Timur (K2SBT) sebagai pemegang otoritas tertinggi untuk segera turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut.

“Saya meminta Ketua Kerukunan mengambil alih proses ini. Panitia sebaiknya dibekukan sementara, SK panitia ditarik, bahkan jika perlu panitia dibubarkan agar persoalan ini tidak terus berlarut,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar mahasiswa dan pemuda tidak dijadikan alat dalam konflik kepentingan tertentu.

“Jangan sampai adik-adik kita dijadikan objek perkelahian. Jika pemilihan ini sampai gagal untuk ketiga kalinya, dampaknya akan jauh lebih besar,” katanya.

Selain itu, Mahmud menyinggung adanya kesepakatan dalam rapat forum internal yang digelar di Masjid Raya pada 25 Januari lalu. Dalam kesepakatan tersebut, ditegaskan bahwa setiap kandidat yang terbukti melakukan pelanggaran harus didiskualifikasi.

“Jika aturan sudah disepakati bersama, maka wajib ditegakkan. Ini demi menjaga marwah dan kredibilitas HIPMA SBT sebagai organisasi pemuda dan mahasiswa,” tegasnya.**

Pos terkait