Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA – Langkah Indonesia dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam mineral bauksit menuju produk bernilai tinggi seperti alumina dan aluminium kini memasuki fase baru yang semakin progresif. Hal tersebut ditandai dengan ekspansi smelter alumina di dalam negeri, sebagai bagian dari strategi besar hilirisasi industri pertambangan nasional.
Salah satu proyek strategis yang tengah digencarkan pemerintah adalah fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan patungan yang diinisiasi oleh anggota Grup MIND ID, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM).
Kehadiran fasilitas pemurnian tersebut menjadi tonggak penting transformasi struktur industri pertambangan Indonesia, yang selama ini didominasi ekspor bahan mentah, menuju industri bernilai tambah tinggi. Transformasi ini sekaligus diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Berdasarkan data, Indonesia tercatat memiliki total sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton. Apabila seluruh cadangan tersebut diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan asumsi harga US$40 per metrik ton, potensi nilai ekonominya hanya sekitar US$311,2 miliar atau setara Rp5.238 triliun dengan asumsi kurs JISDOR Rp16.834 per dolar AS.
Namun, nilai ekonomi tersebut melonjak signifikan ketika bauksit diolah lebih lanjut. Melalui proses pemurnian, tiga ton bauksit dapat menghasilkan satu ton alumina. Dari cadangan yang sama, potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton. Dengan asumsi harga US$400 per metrik ton, nilai ekonominya meningkat menjadi sekitar US$1.037 miliar atau setara Rp17.435 triliun.
Lebih lanjut, pada tahap produksi aluminium, diperlukan setidaknya dua ton alumina untuk menghasilkan satu ton aluminium. Dengan estimasi produksi sekitar 1,29 miliar ton aluminium dan asumsi harga US$3.000 per metrik ton, total nilai ekonomi yang dapat diciptakan mencapai sekitar US$3.885 miliar atau setara Rp65.145 triliun.
Perbandingan tersebut menunjukkan besarnya potensi value creation dari hilirisasi bauksit, sekaligus menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pemurnian alumina sebagai fondasi utama industri aluminium nasional.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), Ferdy Hasiman, menilai langkah hilirisasi bauksit yang diinisiasi MIND ID melalui proyek ini mencerminkan transformasi signifikan dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi.
“Pada 2025, MIND ID telah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan pola lama pertambangan ekstraktif dan tampil sebagai garda terdepan dalam menekan defisit neraca pembayaran melalui hilirisasi berbagai komoditas mineral,” ujar Ferdy dalam keterangannya.
Sementara itu, kajian International Aluminium Institute menyebutkan bahwa kapasitas pemurnian alumina merupakan indikator utama daya saing industri aluminium suatu negara. Dengan beroperasinya hilirisasi bauksit–aluminium terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk menyuplai kebutuhan aluminium global, khususnya bagi industri manufaktur, transportasi, dan energi terbarukan.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmi Radhi, turut menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi di Mempawah menjadi contoh konkret bagaimana kebijakan larangan ekspor bijih bauksit dapat dioptimalkan untuk membangun kedaulatan industri yang berkelanjutan.
Dari sisi ekonomi daerah, proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah juga menciptakan dampak berganda (multiplier effect) bagi Kalimantan Barat, terutama melalui penyerapan tenaga kerja, pengembangan infrastruktur, serta penguatan ekonomi lokal.
Secara keseluruhan, penguatan hilirisasi bauksit melalui SGAR menjadi instrumen jangka panjang pemerintah dalam mengamankan bahan baku industri strategis nasional sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar mineral global.**








