Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin.
PEKALONGAN, JATENG – Dugaan insiden keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami belasan siswa SD Negeri 01 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Selasa (13/1/2026), langsung ditangani cepat oleh pihak sekolah, tenaga kesehatan, dan kepolisian. Seluruh siswa yang sempat mengalami keluhan kini dipastikan sudah kembali ke rumah dalam kondisi stabil.
Kapolsek Kedungwuni IPTU R Yonanta Edy Pranawa, S.H., M.H. mengatakan, Polsek Kedungwuni menerima laporan adanya siswa yang mengalami gejala pusing, mual, muntah, dan mules pada Selasa sore sekitar pukul 15.00 WIB. Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi langsung melakukan monitoring lapangan untuk memastikan kondisi para siswa dan proses penanganannya.
Berdasarkan hasil pengecekan, makanan MBG diterima SDN 01 Kedungwuni sekitar pukul 07.00 WIB dari SPPG Sidodadi, Kedungwuni Timur, dan dibagikan kepada 132 siswa sekitar pukul 09.00 WIB. Sekitar satu jam kemudian, enam siswa mulai mengeluhkan gangguan kesehatan.
“Jumlah siswa yang mengalami keluhan bertambah menjadi 15 orang. Pihak sekolah langsung membawa mereka ke Puskesmas Kedungwuni I untuk mendapatkan pertolongan pertama,” jelas IPTU Yonanta.
Karena kondisi Puskesmas Kedungwuni I saat itu masih melayani masyarakat umum sehingga kapasitas terbatas, enam siswa kemudian dirujuk ke RSI Pekajangan. Seluruh siswa hanya menjalani perawatan ringan dan tidak ada yang dirawat inap.
“Untuk saat ini, semua siswa sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi dan memastikan penyebab kejadian, pihak Puskesmas Kedungwuni I telah mengamankan sampel makanan MBG dan mengirimkannya ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Pekalongan di Kajen untuk diuji secara laboratoris.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 01 Kedungwuni, Deddy Ardiansyah, menuturkan bahwa penanganan awal dilakukan segera setelah laporan dari guru diterimanya. Ia mengaku tidak berada di sekolah saat kejadian, namun langsung menginstruksikan guru untuk melakukan pertolongan pertama.
“Awalnya sekitar lima atau enam siswa kelas 4 yang mengeluh mual dan muntah. Setelah itu ada laporan susulan sehingga totalnya sekitar 15 anak. Semua keluhannya ringan dan sudah diperbolehkan pulang,” ujarnya.
Deddy menegaskan, pihak sekolah belum dapat memastikan penyebab pasti keluhan tersebut. Pasalnya, menu MBG yang sama juga dibagikan ke SDN 02 Kedungwuni yang berasal dari dapur yang sama, namun tidak ada satu pun laporan siswa mengalami keluhan.
“Kami masih menunggu hasil laboratorium dari Dinas Kesehatan. Bisa jadi ada faktor lain, seperti kondisi tubuh anak atau makanan dari luar,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPG Kedungwuni Timur, Mochamad Idhar Khaerul, menjelaskan bahwa pihaknya langsung merespons laporan yang masuk terkait dugaan mi basi dalam menu MBG.
“Begitu ada laporan, kami langsung turun ke sekolah dan ikut memastikan anak-anak mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, menu MBG hari itu terdiri dari bakmi goreng Jawa, telur ceplok, tahu goreng, lalapan timun, dan buah anggur. Idhar mengaku sempat mencicipi mi yang dilaporkan bermasalah.
“Teksturnya tidak lengket dan tidak berlendir seperti mi basi, tapi memang rasanya agak asam. Itu kami serahkan sepenuhnya ke hasil uji lab,” jelasnya.
Idhar juga menegaskan bahwa seluruh proses penyediaan MBG telah mengikuti prosedur, mulai dari persiapan bahan sejak Senin malam, proses memasak dini hari, hingga quality control dan pemeriksaan gizi sebelum distribusi.
Terpisah, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Pekalongan, Nauf, menyebut kejadian tersebut sebagai kejadian menonjol yang masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
“Kami belum bisa menyebut ini kejadian luar biasa. Penentuan itu ada di pemerintah daerah. Dari kami, langkah utama adalah koordinasi dengan Polri, TNI, Dinas Kesehatan, dan melaporkan ke Badan Gizi Nasional Pusat,” katanya.
Nauf memastikan tidak ada siswa yang masih dirawat di rumah sakit dan seluruhnya sudah kembali ke rumah. Pihak SPPG juga menegaskan akan bersikap terbuka dan menunggu hasil uji laboratorium sebagai dasar evaluasi lanjutan.
Hingga saat ini, Polsek Kedungwuni menyatakan belum menerima laporan dari pihak keluarga siswa. Sementara pihak sekolah telah membuka komunikasi dengan orang tua untuk memantau apabila muncul gejala lanjutan di rumah.
Kasus dugaan keracunan MBG di SDN 01 Kedungwuni masih menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium Labkesda Kabupaten Pekalongan sebagai penentu penyebab pasti kejadian tersebut.**








