IIER dan PSPK Gelar Workshop: Kawal Keamanan Anak di Ruang Digital demi Ekosistem Pendidikan yang Aman

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Irvin Pramono. 

JAKARTA – Dalam upaya memperkuat keamanan anak di ruang digital dan membangun ekosistem pendidikan yang aman dan inklusif, Indonesian Institute for Education Reform (IIER) bersama Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Reformer Talk #2 dan Reformer Workshop #2.

Kegiatan yang berlangsung pada September 2025 ini menghadirkan berbagai pihak dari unsur pemerintah, psikolog, praktisi pendidikan, serta pelajar tingkat menengah atas. Tujuannya adalah untuk mendalami tantangan dan menyusun solusi konkret terhadap ancaman yang dihadapi anak-anak Indonesia di ruang digital yang semakin kompleks.

Salah satu sorotan utama dalam Reformer Talk #2 adalah pemaparan mengenai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Perlindungan Anak di Ruang Digital atau yang dikenal sebagai PP TUNAS.

Hadir sebagai narasumber kunci, Mediodecci Lustarini, S.K.M., S.H., M.C.MS., Sekretaris Direktorat Pengawasan Ruang Digital di Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), menekankan pentingnya akuntabilitas penyelenggara sistem elektronik dalam memberikan perlindungan nyata bagi anak-anak.

“PP TUNAS menjadi tonggak penting dalam menjamin keamanan digital bagi anak-anak. Ini adalah bentuk konkret negara dalam memastikan ruang digital tidak menjadi tempat yang membahayakan tumbuh kembang generasi muda,” ujar Mediodecci dalam sesi diskusi.

Selain Mediodecci, diskusi juga melibatkan Pandu Ario Bismo dari PSPK, Aretha Ever Ulitua Samosir, Psikolog Anak dan Remaja dari Bee Genius, serta Claudya Tio Elleossa, perwakilan orang tua sekaligus mantan guru Pendidikan Kewarganegaraan. Ketiganya menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini mulai dari kurangnya literasi digital, maraknya konten negatif, hingga rendahnya pengawasan orang dewasa terhadap aktivitas daring anak.

Sementara dalam Reformer Workshop #2, IIER dan PSPK menggandeng pelajar dari berbagai sekolah menengah atas untuk menyuarakan pengalaman langsung mereka terhadap dunia digital. Dalam sesi yang interaktif, para siswa membagikan pandangan mengenai manfaat teknologi dalam pembelajaran, namun juga mengungkap sisi gelap dari paparan gadget dan internet yang berlebihan.

Beberapa siswa mengaku bahwa meskipun internet memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dan mendukung proses belajar, penggunaan yang tidak terkontrol telah menimbulkan kecanduan digital, gangguan konsentrasi, hingga penurunan kualitas interaksi sosial.

“Teknologi memang membantu belajar, tapi kalau digunakan terus-menerus, kami jadi susah fokus dan bahkan ketagihan main game atau scrolling media sosial,” ujar salah satu peserta workshop.

Direktur IIER dalam pernyataan resminya menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bentuk aksi kolektif untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, baik secara fisik, mental, maupun digital.

Pihak PSPK juga menambahkan bahwa solusi atas tantangan ruang digital harus melibatkan semua pihak pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat sipil secara berkelanjutan dan inklusif.

Melalui kegiatan ini, IIER dan PSPK berharap mampu mendorong formulasi kebijakan yang berbasis bukti, sekaligus membuka ruang kolaborasi lebih luas dalam pengawasan, pendidikan, dan advokasi perlindungan anak di era digital.**

Pos terkait