Laporan wartawan sorotnews.co.id : Tim.
BOMBANA, SULTRA – Kapolres Bombana AKBP Eko Sutomo, S.I.K., M.I.K., bersama jajaran melaksanakan silaturahmi budaya di Istana Rahampu’u Wonua Lembompari, Kecamatan Poleang Utara, Kabupaten Bombana. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara institusi kepolisian dengan tokoh adat serta masyarakat adat Moronene, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal.
Dalam sambutannya, AKBP Eko Sutomo menegaskan bahwa budaya Moronene merupakan warisan leluhur yang sangat berharga dan harus terus dirawat serta dilestarikan. Menurutnya, budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas suatu masyarakat, tetapi juga menjadi pedoman nilai dan perekat sosial dalam menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat.
“Budaya adalah identitas dan kekuatan bangsa. Kearifan lokal masyarakat Moronene harus terus dijaga agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Kapolres.
Istana Rahampu’u Wonua Lembompari sendiri memiliki daya tarik tersendiri. Rumah adat Moronene ini dikelilingi hamparan persawahan yang luas dan hijau, menghadirkan suasana alam yang asri dan khas. Perpaduan antara arsitektur adat Moronene dan lanskap pertanian tersebut menciptakan keunikan visual dan budaya yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi sejarah, serta layak untuk dipromosikan lebih luas.
Usai melaksanakan silaturahmi di rumah adat, rombongan Kapolres Bombana melanjutkan agenda dengan ziarah ke makam leluhur Kerajaan Moronene, yakni makam Sangia Ntina, Sangia Dowo, dan Sangia Oreo. Ziarah tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap para pemimpin adat dan raja Moronene yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah masyarakat setempat.
Secara historis, makam-makam tersebut tidak hanya bernilai spiritual dan budaya, tetapi juga menjadi saksi sejarah perlawanan masyarakat Moronene terhadap kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Para tokoh Moronene tercatat memimpin perlawanan demi mempertahankan kedaulatan wilayah dan martabat kerajaan, sehingga situs-situs makam ini kini dipandang sebagai simbol keberanian, kepemimpinan, dan perjuangan lokal.
Kegiatan ziarah tersebut turut didampingi oleh Sapati Kerajaan Polea, Yang Mulia Mokole Patani Muh. Ali, Ketua Amba Moronene Bombana, serta Sekretaris Jenderal Kerajaan Polea, Mokole Anton Ferdinan. Para tokoh adat tersebut menegaskan pentingnya peran lembaga adat dalam menjaga, merawat, dan melestarikan warisan leluhur Moronene.
Rangkaian silaturahmi budaya dan ziarah ini mencerminkan sinergi antara aparat negara dan masyarakat adat, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga budaya Moronene sebagai identitas, aset sejarah, dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Bombana.**








