Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin.
BATANG, JATENG – Pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bukan hanya mengerek serapan tenaga kerja, tetapi juga memicu lonjakan permintaan rumah subsidi. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya realisasi penyaluran Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) oleh Bank BRI Cabang Batang.
“Hingga Juni 2025, kami sudah menyalurkan 230 unit rumah subsidi. Tahun lalu hanya 150 unit. Kenaikan ini didorong banyaknya pekerja baru di kawasan industri,” kata Kepala BRI Cabang Batang, Bambang Parulian, Selasa (3/7/2025).
BRI Batang kini menjadi mitra favorit bagi para pengembang. Tercatat, sebanyak 55 developer lokal menggandeng BRI dalam menyalurkan KPR FLPP, yang tersebar dari Kecamatan Gringsing hingga Bandar. Mayoritas pembeli berasal dari sektor manufaktur dan logistik, seperti pekerja pabrik garmen, tas, dan karyawan di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang.
“Permintaan rumah didominasi oleh pekerja sektor industri baru. Ini bukan hanya soal properti, tapi bagian dari transformasi ekonomi Batang,” jelas Bambang.
Guna mempercepat proses, BRI menerapkan sistem digital terintegrasi seperti SIKUMBANG, SIAKI, dan SIKASEP untuk memastikan rumah layak huni dan memenuhi prosedur legal. Bambang menegaskan, dana KPR hanya dicairkan jika rumah sudah siap huni dan akta jual beli lengkap.
“Kalau berkas lengkap, pencairan bisa dilakukan dalam satu hari. Ini alasan kenapa developer lebih memilih kerja sama dengan BRI,” tegasnya.
Tak hanya mendorong kepemilikan rumah, lonjakan permintaan ini juga memberi efek domino terhadap sektor lain. UMKM konstruksi dan penyedia bahan bangunan turut terdongkrak.
Pada awal tahun, akad kredit massal menjadi strategi percepatan. Januari, BRI mencatat akad untuk 10 rumah, Februari naik menjadi 20, dan kini rata-rata 30 unit per bulan. Kolaborasi dengan asosiasi seperti Himpera, Apernas, REI, dan Apersi juga memperkuat kecepatan eksekusi proyek.
Target BRI Cabang Batang tahun ini mencapai 500 unit rumah subsidi tersalurkan, dari total kuota regional Kanwil Semarang sebanyak 2.000 unit.
“Batang diprioritaskan karena statusnya sebagai wilayah strategis. Tapi kami pastikan FLPP tetap tepat sasaran dan tidak disalahgunakan,” tambah Bambang.
Proyek strategis nasional seperti KEK Industropolis dan Batang Industrial Park tak hanya mengubah wajah industri, tetapi juga menumbuhkan kebutuhan dasar: hunian yang layak dan terjangkau. Di tengah gelombang investasi, BRI hadir menjembatani kebutuhan masyarakat dan geliat industri lewat pembiayaan rumah subsidi.**








