Laporan wartawan sorotnews.co.id : Sugeng Tri.
SURABAYA, JATIM — Menjelang Hari Raya Idulfitri, satu istilah yang mulai sering terdengar di kalangan pekerja adalah Tunjangan Hari Raya (THR). Bagi sebagian besar pekerja, THR bukan sekadar tambahan penghasilan tahunan, melainkan penopang berbagai kebutuhan musiman yang datang bersamaan saat Lebaran.
Mulai dari membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas Lebaran, hingga berbagi dengan keluarga dan kerabat, semuanya sering kali bergantung pada dana dari THR. Meski demikian, setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengelola dana tersebut, tergantung kondisi kehidupan serta prioritas masing-masing.
Sorotnews mewawancarai dua pekerja di sektor industri manufaktur yang memiliki cara berbeda dalam memanfaatkan THR mereka.
Bagi Agus Susanto, karyawan di perusahaan manufaktur PT Maspion 2 yang berlokasi di Waru, Sidoarjo, THR sudah menjadi bagian dari ritme keuangan tahunan. Ia telah bekerja di perusahaan tersebut hampir 13 tahun.
“THR setiap tahun Alhamdulillah dapat,” kata Agus kepada Sorotnews.
Sebagai pekerja yang sudah berkeluarga, Agus mengaku penggunaan THR jarang bersifat spontan. Ia biasanya sudah merencanakan alokasi dana bahkan sebelum uang tersebut diterima.
Salah satu kebutuhan yang kerap diprioritaskan adalah biaya mudik. Jika ada rencana pulang kampung, sebagian dana THR biasanya langsung dialokasikan untuk membeli tiket perjalanan.
Namun seiring bertambahnya tanggung jawab keluarga, prioritas penggunaan THR juga ikut berubah. Saat ini, sebagian besar dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak serta mempersiapkan berbagai keperluan Lebaran di rumah.
Menjelang Idulfitri, kebutuhan rumah tangga memang meningkat. Selain membeli pakaian baru, keluarga biasanya menyiapkan berbagai kebutuhan tambahan seperti kue Lebaran maupun hidangan khas untuk menjamu tamu.
Tidak hanya itu, Agus juga menyisihkan sebagian THR untuk berbagi dengan kerabat. Keponakan biasanya mendapat uang saku saat Lebaran, begitu pula orang tua dan mertua.
Meski banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, ia berusaha menjaga agar pengeluaran tetap terkendali. Menurutnya, kunci utama dalam mengelola THR adalah perencanaan yang matang.
Sejak jauh hari, ia sudah membuat daftar kebutuhan dan alokasi dana, mulai dari pembelian baju Lebaran, kue, hingga uang yang akan diberikan kepada orang tua.
“Jangan lapar mata,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut Agus, godaan terbesar saat menerima THR biasanya datang dari keinginan membeli barang lebih banyak dari yang direncanakan.
“Harusnya rencananya beli satu, tapi tiba-tiba jadi dua. Itu yang bikin over budget,” katanya.
Dengan perencanaan tersebut, THR yang diterimanya biasanya tidak langsung habis setelah Lebaran. Jika masih ada sisa, uang tersebut akan disimpan sebagai tabungan selama tidak ada kebutuhan mendesak.
“Alhamdulillah cukup sih, karena kan sudah di-plan jauh-jauh hari,” ujarnya.
Pengalaman berbeda datang dari Mariati, pekerja asal Nganjuk yang bekerja di perusahaan makanan Wings Food di kawasan Manyar, Gresik.
Selain bekerja, Mariati saat ini juga sedang menempuh pendidikan magister di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
“Selain bekerja saya juga kuliah S2 di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya,” kata Mariati kepada Sorotnews.
Seperti pekerja lainnya, ia juga menerima THR setiap tahun dari perusahaan tempatnya bekerja. Namun penggunaan dana tersebut biasanya sudah direncanakan jauh sebelum diterima.
Pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian dana THR biasanya ia gunakan untuk kebutuhan Lebaran seperti konsumsi keluarga, membeli pakaian baru, serta berbagi dengan kerabat. Sebagian lainnya bahkan disimpan atau diinvestasikan.
Namun pada tahun ini, prioritas penggunaan THR berubah cukup signifikan.
“Kalau untuk tahun ini, semuanya THR itu digunakan untuk biaya perkuliahan,” ujarnya.
Saat ini Mariati berada di tahap akhir studinya sehingga membutuhkan dana tambahan untuk berbagai kebutuhan akademik, termasuk persiapan sidang.
Dengan kondisi tersebut, sebagian besar THR yang diterimanya dialokasikan untuk kebutuhan pendidikan.
Meski demikian, ia tetap menyisihkan sebagian kecil dana untuk berbagi dengan anak-anak di keluarganya saat berkumpul pada Hari Raya.
“Kayaknya sepertinya habis untuk pendidikan,” katanya.
Meski begitu, ia mengaku THR tetap sangat membantu kondisi keuangan selama bulan Ramadan.
“Sangat membantu, karena selama bulan puasa itu secara tidak langsung pengeluaran kita lebih banyak daripada bulan-bulan sebelumnya,” ujarnya.
Pentingnya Perencanaan Keuangan
Bagi Mariati, agar THR tidak cepat habis, kuncinya tetap pada perencanaan sejak awal.
“Saran saya sebelum dapat THR itu di-planning dulu ya berapa yang harus kita keluarkan, kemudian berapa yang harus kita tabung,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa menggunakan sebagian THR untuk memberi penghargaan pada diri sendiri sebenarnya tidak menjadi masalah, selama tetap ada porsi untuk menabung.
“Kalau memang mau reward diri dengan uang THR boleh, tapi alangkah baiknya lebih banyak ditabung,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang Lebaran, THR memang sering menjadi penyelamat keuangan sementara bagi banyak pekerja.
Namun dari pengalaman para pekerja tersebut, satu hal terlihat jelas: tanpa perencanaan yang matang, dana THR bisa habis jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Bagi sebagian orang, THR berarti membeli baju baru atau menyiapkan hidangan Lebaran. Bagi yang lain, uang tersebut bisa menjadi tabungan, investasi, bahkan biaya pendidikan.
Apa pun bentuknya, cara seseorang mengelola THR sering kali mencerminkan prioritas hidup yang sedang dijalani.**

