Muktamar Sufi Internasional di Kota Pekalongan Sepakati Hasilkan Delapan Rekomendasi

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Toni. 

KOTA PEKALONGAN, JATENG – Penutupan Muktamar Sufi Internasional yang berlangsung di Convention Hall Hotel Sahid Mandarin Kota Pekalongan selama tiga hari menghasilkan delapan rekomendasi penting bagi 38 negara peserta. Delapan rekomendasi itu dibacakan oleh Wakil Ketua Persatuan Sufi Dunia, Syekh Dr Riyadh Hassan Bazo dari Lebanon.

Bacaan Lainnya

“Ada empat tema yang tertuang dalam delapan rekomendasi hasil kajian dan peniliti di Muktamar Sufi Internasional di Kota Pekalongan,” ujar Syekh Dr Riyadh Hassan Bazo, Kamis (31/8/2023).

Adapun delapan rekomendasi itu adalah yang pertama seluruh peserta Muktamar Sufi Internasional sepakat mengucapkan terima kasih dan penghargaan tertinggi kepada Presiden Joko Widodo yang mendukung pelaksanaan muktamar di Indonesia.

Penghargaan yang sama juga disematkan kepada Maulana Habib Luthfi Bin Yahya atas penyelenggaraan forum sufi dunia termasuk keberhasilan mengangkat isu dan tema dan tak lupa kepada sambutan hangat warga Kota Pekalongan.

“Yang kedua konferensi menyerukan pengintegrasian, pengaturan dan instruksi normalisasi upaya tarekat sufi membentuk divisi yang bertugas membuat perencanaan kajian, strategi sufi kontemporer, verifikasi asal usul dan mendokumentasikannya,” kata Syekh Riyadh.

Kemudian yang ketiga, lanjut dia, mengajak tarekat sufi mengembangkan investasi di bidang pertanian dan energi terbarukan agar mencapai swasembada ekonomi, menyerukan pengurangan polusi, pemanasan global dan perubahan iklim.

Yang keempat, kata dia, bahwa muktamar menyerukan tarekat sufi agar berkontribusi dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah serta universitas untuk menambahkan sentuhan keimanan termasuk menempuh segala hal yang dapat membantu generasi mendapatkan pengetahuan agama.

“Yang kelima mempertahankan konferensi ini setiap tahun di negara yang menjadi kantor majelis sufi di indonesia, mendukung majelis turunan serupa berkontribusi dan berpartisipasi yang diadakan oleh pihak lain,” ucap Syekh Riyadh.

Lalu yang keenam adalah pemerintah dan masyarakat melestarikan norma keluarga dan masyarakat menentang propaganda global berupa hal yang bertentangan dengan kesucian, merubah ciptaan tuhan, LGBT penyimpangan seksual dan sebagainya.

Yang ke ketujuh, imbuh dia, majelis sufi dunia memutuskan mendirikan kantor cabang di setiap benua berdasarkan kebutuhan bertugas memperkenalkan majelis sufi dunia dan membentuk portofolio investasi proyek majelis studi dunia diantaranya pembangunan universitas Al-Ihsan dan merintis chanel sufi dunia.

“Dan yang terakhir atau ke delapan menyerukan negara yang sedang didera kerusuhan internal untuk mengedepankan dialog dan kepentingan nasional menghindari penggunaan senjata, kekerasan dan politik pecah belah,” beber Syekh Riyadh.

Pos terkait