Laporan wartawan sorotnews.co.id : Agus Arya.
JAKARTA – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo terus memperkuat komitmennya dalam mendorong efisiensi layanan di pelabuhan, khususnya di terminal peti kemas, melalui penerapan sistem digital Terminal Booking System (TBS). Inovasi ini dirancang untuk memperlancar arus kendaraan angkutan barang, mengurangi antrean, dan meningkatkan kepastian waktu layanan bagi para pengguna jasa.
Direktur Operasi Pelindo, Putut Sri Muljanto, menjelaskan bahwa penerapan TBS merupakan bagian dari strategi besar perusahaan dalam transformasi digital sektor kepelabuhanan nasional.
“TBS adalah salah satu bentuk nyata komitmen kami dalam digitalisasi layanan di lingkungan Pelindo. Melalui sistem ini, pergerakan truk di area pelabuhan dapat diatur secara lebih tertib, waktu tunggu ditekan, dan proses bongkar muat berlangsung lebih efisien. Semua itu berdampak langsung pada pemangkasan waktu sandar kapal atau port stay,” ujar Putut dalam keterangan resminya, Minggu (20/10/2025).
Putut menambahkan, peningkatan efisiensi di pelabuhan akan berkontribusi langsung terhadap kelancaran distribusi barang, baik bahan pokok maupun bahan baku industri. Dengan begitu, sistem ini juga mendukung stabilitas harga serta ketersediaan barang di pasar.
Melalui TBS, setiap kendaraan angkutan barang yang akan masuk ke area terminal peti kemas wajib melakukan pemesanan jadwal secara online. Sistem ini secara otomatis mengatur slot waktu kedatangan dan kapasitas terminal, sehingga arus kendaraan bisa dikelola secara terukur dan terhindar dari penumpukan di gate maupun akses jalan pelabuhan.
Saat ini, TBS telah diimplementasikan di sejumlah pelabuhan utama seperti Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Emas (Semarang), dan Tanjung Perak (Surabaya). Setiap pelabuhan memiliki sistem penjadwalan layanan yang disesuaikan dengan kondisi terminal.
Di Tanjung Priok, waktu pelayanan dibagi menjadi tiga slot per delapan jam. Di Tanjung Perak, dibagi menjadi enam slot per empat jam. Sementara di Tanjung Emas, terbagi dalam delapan slot per tiga jam. Setiap slot memiliki batas maksimal jumlah kendaraan yang ditentukan sesuai kapasitas terminal masing-masing.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Tengah, Teguh Arif Handoko, menyambut baik penerapan TBS ini. Menurutnya, layanan di Terminal Petikemas Semarang kini jauh lebih efektif dan cepat.
“Sekarang di Tanjung Emas tidak ada lagi antrean truk. Area parkir truk kontainer juga cukup luas, sehingga truk yang sudah melakukan booking tetapi belum dilayani bisa menunggu di lokasi yang sudah disiapkan,” ungkap Teguh kepada media.
Penerapan Terminal Booking System telah menunjukkan berbagai dampak positif, di antaranya: Pengurangan antrean kendaraan angkutan barang, Peningkatan ketepatan waktu layanan, Penurunan biaya operasional bagi pengguna jasa akibat berkurangnya waktu tunggu, Transparansi sistem layanan, karena seluruh operator truk menggunakan mekanisme yang sama tanpa pengecualian
Putut menegaskan bahwa TBS bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga bagian dari perubahan budaya kerja di lingkungan pelabuhan.
“Diperlukan kedisiplinan semua pihak, baik operator terminal, pengemudi truk, maupun pengguna jasa, untuk memastikan sistem ini berjalan optimal. Kami juga terus melakukan sosialisasi dan pendampingan guna mendukung proses adaptasi di lapangan,” jelasnya.
Pelindo memastikan bahwa sistem TBS akan terus dievaluasi dan disempurnakan. Saat ini, perusahaan juga tengah mempersiapkan integrasi TBS dengan platform digital lainnya di lingkungan Pelindo, termasuk sistem layanan kapal dan terminal. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan konektivitas data yang menyeluruh dan sinkronisasi layanan logistik nasional.
“Ke depan, kami akan memperluas implementasi TBS ke seluruh terminal di bawah pengelolaan Pelindo. Target kami adalah membangun sistem layanan pelabuhan yang lebih efisien, aman, transparan, dan berdaya saing tinggi di tingkat global,” pungkas Putut.**








