Laporan wartawan sorotnews.co.id : Aziz.
PEKALONGAN, JATENG – Sosialisasi kegiatan pertambangan batuan jenis tanah urug yang digelar di SDN 03 Sumurjomblangbogo, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Kamis (23/10/2026), berakhir ricuh. Acara yang sedianya bertujuan memberikan penjelasan terkait rencana aktivitas tambang oleh CV Tri Manunggal Jaya Sejahtera tersebut justru memicu penolakan keras dari warga.
Kericuhan bermula ketika sejumlah pemilik lahan mempertanyakan keabsahan proses perizinan tambang yang dinilai janggal dan tidak prosedural. Warga mengaku tidak pernah diminta izin, dihubungi, ataupun diajak musyawarah terkait penggunaan lahan mereka untuk kegiatan pertambangan.
“Kami, para pemilik tanah, menolak rencana tambang ini karena tidak ada sosialisasi maupun persetujuan dari kami. CV tersebut sudah melangkahi prosedur,” tegas Edy Suyitno, salah satu perwakilan warga yang hadir dalam forum tersebut.
Selain tidak adanya izin dari warga, terungkap pula bahwa lahan yang dimaksud telah bekerja sama dengan PT SAIMBA sejak satu tahun lalu. Kerja sama tersebut bahkan sudah sampai tahap pendataan lahan, penyusunan dokumen, dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Hal itu memunculkan kecurigaan baru di kalangan warga mengenai alasan munculnya izin tambang lain atas nama perusahaan berbeda.
Situasi forum semakin memanas setelah muncul dugaan bahwa Kepala Desa Sumurjomblangbogo, Sunaryo, diduga memanipulasi data kepemilikan tanah dan memberikan kesan seolah dirinya memiliki mandat penuh dari warga untuk bekerja sama dengan CV Tri Manunggal Jaya Sejahtera. Padahal, warga menegaskan kerja sama resmi telah terjalin sebelumnya dengan PT SAIMBA.
Beberapa tokoh masyarakat dan pemilik lahan seperti H. Mardi, Tarono, dan Nyono secara aklamasi menyatakan penolakan tegas terhadap rencana tambang baru tersebut.
Sementara itu, baik Kepala Desa Sunaryo maupun perwakilan dari CV Tri Manunggal Jaya Sejahtera enggan memberikan komentar saat dimintai keterangan oleh awak media.
Kegiatan sosialisasi tersebut turut dihadiri oleh ratusan warga, Babinkamtibmas, Babinsa, dan unsur pemerintah desa. Hingga acara berakhir, situasi sempat memanas namun berhasil dikendalikan oleh aparat keamanan yang berjaga di lokasi.**








