Tanah Gerak Masih Aktif di Kandangserang Pekalongan, Empat Rumah Rusak Berat

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin. 

PEKALONGAN, JATENG – Fenomena tanah gerak melanda Dukuh Sidamulya, Desa Bubak, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Peristiwa ini dipicu cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, dengan hujan lebat mengguyur wilayah tersebut hampir tanpa jeda sejak Kamis hingga Jumat (6/2/2026).

Ketua RT 09 RW 04 Dukuh Sidamulya, Muntolib, mengungkapkan bahwa pergerakan tanah semakin parah setelah debit air dari sumber mata air yang berada di atas permukiman meningkat tajam dan berada di luar kondisi normal. Tingginya curah hujan membuat tekanan air dalam tanah bertambah, sehingga memicu longsoran di bawah area permukiman warga.

“Di atas permukiman itu ada sumber mata air. Debitnya besar sekali, jauh lebih besar dari biasanya. Hujan juga benar-benar deras dari Kamis sampai Jumat, hampir tidak berhenti,” ujar Muntolib saat ditemui, Minggu (8/2/2026).

Akibat kondisi tersebut, longsor terjadi cukup luas di bagian bawah dukuh yang merupakan area kebun. Sementara itu, di bagian atas, retakan tanah mulai bermunculan dan jalan desa terlihat ambles di sejumlah titik. Kondisi ini menandakan bahwa pergerakan tanah masih aktif dan berpotensi terus meluas.

“Di bawah desa longsor, di atasnya permukiman dan jalan sudah retak dan amblas. Kalau dilihat sekarang itu sangat mengerikan. Kalau hujan deras, warga sudah tidak bisa tidur karena takut,” katanya.

Dari sekitar 35 kepala keluarga (KK) yang bermukim di Dukuh Sidamulya, tercatat empat rumah mengalami kerusakan berat. Selain itu, puluhan rumah lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang, seperti retakan pada dinding dan pergeseran struktur bangunan.

“Yang rusak parah ada empat rumah. Kalau yang rusak ringan sampai sedang hampir puluhan rumah,” jelas Muntolib.

Dari empat rumah yang mengalami rusak berat, satu rumah terpaksa ditinggalkan penghuninya karena dinilai sudah tidak layak huni. Sebanyak enam jiwa dari rumah tersebut mengungsi sementara ke lokasi yang lebih aman, meski masih berada di sekitar dukuh.

“Satu rumah sudah ditinggal penghuninya, ada enam jiwa yang mengungsi. Mengungsinya masih di area sini, tapi yang lebih aman,” ungkapnya.

Sementara itu, tiga rumah rusak berat lainnya masih ditempati dengan kondisi darurat. Bahkan, salah satu rumah telah dibongkar sebagian, dan penghuninya memindahkan aktivitas sehari-hari ke bagian dapur yang dianggap memiliki kondisi tanah lebih stabil.

Selain mengancam permukiman, fenomena tanah gerak juga berdampak pada akses jalan penghubung desa. Retakan dan amblesan terlihat di beberapa titik jalan. Meski demikian, jalan tersebut masih dapat dilalui kendaraan roda dua secara terbatas.

“Kondisi jalan desa sudah retak dan ambles. Motor masih bisa lewat, tapi harus ekstra hati-hati,” tukasnya.

Muntolib menambahkan, area longsoran berada di lahan kebun dengan luas lebih dari satu hektare. Jarak antara titik longsor dengan rumah terdekat diperkirakan hanya sekitar 20 meter, sementara permukiman warga di bagian atas berada sekitar 50 meter dari lokasi longsor.

Ia juga mengungkapkan bahwa gejala tanah gerak sebenarnya sudah dirasakan warga sejak lama. Namun, intensitas dan dampaknya meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir seiring curah hujan tinggi, hingga kini mengancam langsung permukiman warga.

“Dulu tanah gerak sudah ada, tapi masih jauh dari pemukiman. Sekarang kondisinya sudah sangat dekat dengan rumah warga,” pungkas Muntolib.**

Pos terkait