Laporan wartawan sorotnews.co.id : Irpan Sofyan.
JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Dewan Harian Cabang (DHC) Kejuangan 45 Jakarta Barat menggelar tasyakuran dan refleksi kemerdekaan, bertempat di Kantor DHC Badan Pembudayaan Kejuangan 45, Jalan Anggrek Rosliana E/30, Kemanggisan, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Jumat malam (15/8/2025).
Acara berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan, dengan mengangkat tema “Kebangsaan Jiwa yang Merdeka”. Kegiatan ini turut dihadiri oleh pengurus DHC dan Dewan Harian Ranting (DHR) se-Jakarta Barat, serta para sahabat dan mitra organisasi.
Selain sebagai momen peringatan kemerdekaan, acara ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota dan memperkuat semangat kebangsaan dalam mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai kejuangan.
Dalam sambutannya, Ketua DHC Kejuangan 45 Jakarta Barat, Ayang Ardiansyah, mengajak seluruh anggota DHC dan DHR untuk memaknai kemerdekaan dengan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap kawan-kawan DHC dan DHR bisa mengisi kemerdekaan ini dengan aktivitas positif. Jangan berharap pada orang lain, tapi berkontribusilah sekecil apapun demi bangsa ini. Menghormati dan menghayati kemerdekaan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang membawa manfaat,” ujar Ayang.
Ia menekankan bahwa perjuangan di era sekarang bukan lagi dengan senjata, melainkan dengan semangat berkarya, beretika, dan menjaga nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu narasumber dalam acara ini, Direktur LBH Kejuangan 45 DKI Jakarta, Bhakti Dewanto, SH, MH, menyampaikan refleksi kritis mengenai makna kemerdekaan.
“Setelah 80 tahun merdeka, mari kita bertanya pada diri masing-masing: apakah kita benar-benar telah merdeka? Karena makna kemerdekaan sangat luas dan tidak selalu diukur dari lepasnya penjajahan fisik. Ada penjajahan ideologi, ekonomi, bahkan rasa takut terhadap kekurangan,” kata Bhakti.
Ia juga mengajak peserta untuk meninjau kembali posisi Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Menurutnya, Pancasila memiliki nilai filosofis yang mendalam dan bahkan lebih unggul dibandingkan ideologi-ideologi besar dunia, sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno.
Namun, Bhakti menyoroti bahwa dalam praktiknya, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius seperti korupsi, kesenjangan sosial, dan degradasi moral.
“Kalau memang Pancasila adalah ideologi yang luhur, mengapa kondisi bangsa kita masih begini setelah 80 tahun merdeka? Kita perlu kembali ke nilai-nilai dasar Pancasila – ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial — sebagai pedoman nyata dalam berbangsa dan bernegara,” imbuhnya.
Acara tasyakuran ditutup dengan pembacaan doa bersama untuk bangsa dan negara, serta prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih.
Sesi foto bersama pun menjadi penutup acara, menandai semangat kebersamaan dan komitmen para peserta untuk terus menjaga nilai-nilai perjuangan dan kejuangan dalam kehidupan sehari-hari.**








