Laporan wartawan sorotnews.co.id : Udin.
BATANG, JATENG – Sebanyak 20 nelayan dari Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, mengikuti pelatihan teknis bertema ‘Perawatan dan Perbaikan Mesin Diesel Satu Silinder’ yang digelar oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) bekerjasama dengan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), pengelola PLTU Batang. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 13 hingga 15 Oktober 2025, di Gedung Pramuka Batang.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan keterampilan nelayan dalam merawat sekaligus memperbaiki mesin kapal secara mandiri, sehingga mereka tidak lagi bergantung pada bengkel atau teknisi luar ketika menghadapi kerusakan mesin di tengah aktivitas melaut.
Salah satu peserta, Rusmanto (49), nelayan asal Roban Timur, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan praktis yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
“Kami berharap setelah pelatihan ini bisa memperbaiki mesin sendiri, terutama saat mesin mengalami kendala di laut. Selain itu, kami juga bisa membantu teman-teman nelayan lain yang belum bisa memperbaiki mesin,” ujarnya di sela kegiatan, Selasa (14/10/2025).
Rusmanto menambahkan, peserta juga mendapat pengalaman praktik langsung membongkar dan memasang kembali mesin diesel. Mereka diajarkan cara mendiagnosa kerusakan, mengganti onderdil, hingga menguji performa mesin agar kembali berfungsi normal.
“Prakteknya itu kami membongkar mesin dulu, melihat bagian mana yang rusak, lalu mengganti onderdilnya dengan yang baru. Setelah itu, mesin kembali normal dan tenaganya jadi kuat lagi,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Kepala DKP Kabupaten Batang, Agung Wisnu Bharata, menilai pelatihan semacam ini sangat penting bagi nelayan kecil. Menurutnya, sebagian besar nelayan selama ini masih mengandalkan pengalaman kerja turun-temurun tanpa pengetahuan teknis yang memadai.
“Hari ini kita mengajari mereka bagaimana cara merawat dan memperbaiki mesin diesel kapal yang selama ini biasanya digarap oleh orang lain. Kalau mereka nanti punya kemampuan sendiri, akan terjadi efisiensi, karena memperbaiki satu mesin rusak bisa memakan biaya antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta,” paparnya.
Agung menegaskan, pelatihan ini juga bagian dari konsep pemberdayaan agar nelayan bisa mandiri dan ilmu yang didapat dapat ditularkan ke rekan-rekan nelayan lainnya.
“Konsepnya pemberdayaan agar mereka bisa mandiri, dan ilmunya bisa tersebar ke nelayan yang lain,” tambahnya.
Di sisi lain, Chief Operating Officer (COO) PT Bhimasena Power Indonesia, Naofumi Yasuda, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat sekitar, khususnya di wilayah pesisir.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin menyalakan harapan baru. Kami percaya masyarakat nelayan Roban Timur memiliki semangat luar biasa, dan kami ingin semangat itu didukung dengan keterampilan yang tepat,” ujarnya.
Yasuda menambahkan, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada aspek pemberdayaan dan kemandirian nelayan agar lebih sejahtera di masa depan.
“Pelatihan ini bukan sekadar soal mesin, tapi tentang kemandirian dan masa depan. Kami berharap mereka bisa lebih mandiri, mampu merawat dan memperbaiki mesin perahu sendiri, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga,” tegasnya.**








