Lapas Batam Panen 200 Kg Sayuran Segar, Bukti Komitmen Pembinaan dan Ketahanan Pangan

Laporan wartawan sorotnews.co.id : Priska Sitorus. 

BATAM, KEPRI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Batam kembali mencatat capaian positif dalam program pembinaan kemandirian warga binaan pemasyarakatan (WBP). Melalui kegiatan kerja di sektor pertanian, Lapas Batam berhasil memanen 205 kilogram sayuran segar, yang terdiri dari 160 kilogram bayam hijau dan 45 kilogram kangkung, Kamis (23/10/2025) pagi, di area branggang Lapas Batam.

Bacaan Lainnya

Panen kali ini menjadi bukti nyata keberhasilan pembinaan yang tak hanya berfokus pada pembentukan karakter, tetapi juga peningkatan keterampilan dan kontribusi nyata terhadap program ketahanan pangan nasional.

Kepala Lapas Batam, Yosafat Rizanto, menjelaskan bahwa kegiatan panen tersebut merupakan bagian dari upaya Lapas Batam dalam mendukung Asta Cita Presiden serta Program Akselerasi Ketahanan Pangan yang dicanangkan oleh Kementerian Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS).

“Kami berkomitmen untuk terus mendorong kemandirian warga binaan melalui kegiatan produktif yang berorientasi pada ketahanan pangan. Panen kali ini menjadi bukti bahwa pembinaan di Lapas tidak hanya mencetak sumber daya manusia yang siap kembali ke masyarakat, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata,” ujar Yosafat kepada Sorotnews.co.id.

Ia menambahkan bahwa hasil pertanian ini juga menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan bagi warga binaan agar memiliki keterampilan praktis dan produktif yang dapat diterapkan setelah mereka bebas nantinya.

Hasil panen sayuran segar tersebut sebagian didistribusikan kepada pihak ketiga untuk diolah menjadi bahan makanan yang nantinya dikonsumsi kembali oleh warga binaan, sementara sebagian lainnya dibeli oleh para petugas Lapas.

Langkah ini tidak hanya memperkuat prinsip kemandirian pangan di lingkungan pemasyarakatan, tetapi juga menjadi bentuk sinergi internal antara petugas dan warga binaan dalam menjaga keberlanjutan program pertanian.

“Selain memenuhi kebutuhan gizi warga binaan, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi kecil yang positif, karena sebagian hasil bisa dijual untuk menambah pemasukan kas kegiatan pembinaan,” tambah Yosafat.

Program pertanian di Lapas Batam menjadi salah satu model pembinaan berbasis kerja produktif yang menekankan pada pendidikan keterampilan dan tanggung jawab sosial.

Melalui kegiatan ini, warga binaan dilibatkan langsung dalam proses mulai dari penanaman, perawatan, hingga panen. Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan tersebut juga menumbuhkan rasa percaya diri, kerja sama, dan disiplin di kalangan warga binaan.

Yosafat berharap program ini dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh bagi lapas-lapas lain di Indonesia.

“Kami ingin pembinaan di Lapas Batam tidak berhenti pada aspek moral, tapi juga membekali warga binaan dengan keahlian yang bermanfaat. Sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka sudah siap menjadi individu yang produktif dan mandiri,” tutup Kalapas.

Dengan keberhasilan panen ini, Lapas Batam kembali menegaskan komitmennya dalam melaksanakan pembinaan berkelanjutan yang sejalan dengan visi Pemasyarakatan Maju, Indonesia Tangguh, serta berperan aktif mendukung program ketahanan pangan nasional.**

Pos terkait